Anggota DPRD Kutim Kidang Blak-blakan Mengisahkan Manis-Pahit Perjalanan Hidupnya, Termasuk Berpoligami

Kutai Timur, Metrokaltim.com – Metro Kaltim berkesempatan mengupas singkat perjalanan hidup Wakil Ketua Komisi C DPRD Kutim, Masdari Kidang. Kepada media ini, Kidang bertutur panjang di rumah anaknya, Gang Banjar, Kecamatan Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, pada belum lama ini.

Kidang lahir di Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, Kutim, tepatnya 12 November 1959. Ayahnya Haji Sahrum dan Ibunya Senah. Di masa kecilnya, Kidang terlahir dari keluarga petani yang serba pas-pasan. Bahkan saat menempuh sekolah di tingkat SD hingga SMP, bahan seragamnya dari kain kafan yang kemudian diberi pewarna baju. “Karena tidak mampu membeli seragam berbahan kain,” ulasnya.

Ekonomi Kidang mulai terangkat saat hijrah ke Kabupaten Kutai Kertanegara. Di sana dia masuk di lingkaran keluarga cendana melalui Tommy Soeharto – putra Presiden RI ke-2 almarhum Soeharto. Bisa masuk ke pusaran keluarga cendana ini tak lepas dari kegigihan dan kerja kerasnya. “Saat itu ada program kementerian pusat terkait pelestarian budidaya sarang burung walet,” terangnya.

Bahkan dirinya mendapat rekomendasi dari Tommy Soeharto untuk memegang semua usaha sarang burung walet yang ada di Kaltim. “Saya saja mungkin di jaman itu sudah mampu menghasilkan keuntungan Rp 4 miliar. Sampai-sampai saya berangan-angan uang sebesar itu bisa untuk membeli Kecamatan Bengalon. Memasuki perang antara Amerika dan Irak di era pelengseran Presiden Irak Sadam Husein semua aktivitas ekspor-impor berdampak pada bisnis sarang waletnya. Saya sempat kolaps, dari punya uang Rp 4 miliar hanya tersisa Rp 25 juta saja,” cerita Kidang.

Cobaan belum jengah mengusik Kidang. Setelah usaha sarang waletnya bangkrut, rumah Kidang di jalan Cendana, Samarinda, habis terbakar. “Saya ingat betul dari Rp 4 Miliar habis menjadi Rp 25 juta. Setelah itu kena musibah kebakaran tersisa Rp 5 juta, akhirnya saya memutuskan kembali ke Bengalon,” bebernya.

Namun mendapat cobaan tak membuat Kidang putus asa. Di Bengalon, ia mulai bangkit. Di sana dia bekerja di perusahaan kayu dan dimodali 4 unit alat berat excavator. Pelan-pelan, ekonominya mulai bangkit. Dari usahanya itu, Kidang mendirikan rumah, memiliki lahan perkebunan kelapa sawit, memiliki tujuh kolam budidaya ikan mas dan nila. Selain itu dia juga mempunyai ladang sawah petak, padi gunung, sarang burung walet ditambahi lagi CSR KPC bibit pohon jati.

Kepribadian Kidang yang keras, membuatnya sering terlibat aksi perkelahian dalam memperjuangkan hak-hak orang kecil maupun yang tertindas. Pasalnya, para perusahaan di Bengalon tidak memperlakukan masyarakat lokal dengan adil.

Akibat keberaniannya membela kaum marginal itu membuat Kidang keram dijuluki “preman sang penjuang rakyat kecil” oleh masyarkat. Bahkan, tak sedikit masyarakat mendukung dia menjadi anggota dewan di Kutim. Berkat motivasi masyarakat itu Kidang sempat maju menjadi calon kades pada 2016, namun gagal. “Mungkin ini garisan Allah SWT, meski gagal menjadai kades, pada 2019 saya malah menjadi anggota DPRD Kutim,” ulas Kidang.

Nasihat yang paling berkesan dalam hidup Kidang adalah pesan moral yang disampaikan ayahnya sebelum wafat. Ketika itu, saya ayah meminta Kidang untuk bisa mengontrol emosionalnya. Begini pesan ayah kandung Kidang kala itu.

“Dar (panggilan sang ayah untuk Kidang), bapak pesan: kontrol emosi dan jangan berkelahi lagi. Kamu itu cukup dikenal dan dipandang. Bapak bangga sama kamu, Nak. Banyak dekat dekat dengan elite-elite politik di tingkat nasional, termasuk anak mantan presiden RI Soeharto, Tommy Soeharto, menteri kehutanan dan menteri penerangan era Soerharto. Bahkan saudara-saudara kandungmu itu sangat segan terhadap kamu. Pertahankan itu, Dar. Dan tetap jaga sikap, kelola emosional dengan baik. Berubahlah, Dar, untuk menjadi lebih baik,” kenang Kidang.

Dengan mata berkaca-kaca dan dirundung keharuan, Kidang tetap merasa bangga saat jaya-jayanya sarang burung walet pada 1994. Ketika itu ia dapat memberangkatkan almarhum ayahnya menunaikan ibadah haji. Sementara penyesalannya tidak sempat menaikan haji karena juga telah meninggal dunia.

“Sekeras-kerasnya saya mau saya dicap preman tapi ibu tetap memandang saya anak yang baik bahkan sangat sayang terhadap saya. Satu lagi nasihat almarhum ayah yang membuat saya berubah juga: Dar, biasanya orang yang berkelahi dengan senjata nyawanya juga akan berakhir di senjata. Mendengar itu hati saya bergetar dan di dalam benak saya: Benar juga, manusia tidak selamanya jagoan. Artinya di atas langit masih ada langit, apalagi nasihat itu keluar dari ucapan orang tua kita,” ucapnya.

Di masa mudanya, Kidang memiliki tampang yang rupawan. Ia memiliki kulit putih. Dia juga memiliki banyak usaha dan sukses sehingga terbilang playboy. Sehingga ia banyak disukai para kaum hawa. Bahkan, di usianya yang tidak muda lagi, Kidang lah anggota DPRD Kutim yang berani menceritakan dirinya berpoligami secara blak-blakan. Dia mengaku miliki tiga istri. Istri pertamanya meninggal dunia. Maka kini Kidang hanya hidup bersama dua istri bernama Mursidah dan Rusmini. Dari ketiga istrinya itu, ia dikaruniai 14 anak, 26 cucu dan 2 cicit.

Keharmonisan rumah tangga anggota DPRD Kutim Masdari Kidang bersama kedua istrinya.

Di tengah mahligai rumah tangga Kidang-Mursidah, rupanya saat memasuki masa menanam padi, ia membuat hajatan kecil-kecilan dan mengundang salah satu guru mengaji Rusmini. Dari sini lah cinta Kidang dengan Rusmini bersemi.

“Awalnya bertemu istri ketiga Rusmini berawal dari ladang sawah singgah di hati. Pertama melihat Rusmini saya masih biasa-biasa saja tapi saya tahu ada feeling, seperti ada perhatian berbeda yang diberikannya kepada saya,” kata Kidang.

Dalam keterangannya kepada Metro Kaltim, Rusmini mengaku, pada usainya ke-9 ia sempat mencari tahu informasi tentang Kidang kepada orangtuanya. “ Pak, Mah, Sukidang (panggilan Rusmini untuk Kidang) orangnya seperti apa sih? Kebetulan saat itu Sukidang di kampung namanya kesohor, jadi rebutan gadis desa juga,” tutur Rusmini dengan melepas tawa dan wajah memerah saat diwawancarai.

Beranjak dewasa, Rusmini dipertemukan dengan Kidang. Pertemuan ini membuat perempuan berhijab itu menjadi senang. “Saat bertemu di kebun itulah saya melihat Pak Kidang memang tidak tampan, tapi hatinya baik, jujur dan rendah hati. Saat itu posisi saya juga tengah memasuki proses cerai dengan suami yang dulu. Pak Kidang juga bersahabat dengan mantan suami itu,” ungkap Rusmini.

Kidang pun mengaku memiliki “rasa cinta” kepada Rusmini. Tapi ketika itu ia belum berani mengungkapkan perasaannya secara gamblang. Namun rasa rindu kian mendera di hati Kidang. Hal itu terlihat saat istri keduanya bergegas meninggalkan pesta tanam padi yang digelar Kidang. “Sukidang aku pamit dulu yah?” mendengar itu membuat Kidang kecewa dan balik bertanya kepada Rusmini. “Kenapa kamu tidak menemani saya sih, lebih mementingkan kesibukan lainnya?,” tanya Kidang.

Tanpa menghiraukan pertanyaan Kidang, Rusmini dengan langkah terburu-buru bergegas meninggalkan lokasi acara. “Saya saat itu ingin membuktikan juga sebenarnya apakah Rusmini benar-benar suka dengan saya. Akhirnya saya bersama teman mendapat proyek dan menghadap bos besar di Jakarta selama dua minggu. Saat berada di Jakarta saya menginap di hotel, satu kamar ada dua bed. Saat asik berselimut, handphone berbunyi dan langsung saya angkat. Iya halo…Rusmini bersuara menanyakan kepada saya: Sukidang kamu lagi di mana? Saya jawab: Jakarta. Lagi dia bertanya: berapa lama yah? Saya kembali menjawab: dua minggu lah. Spontan dia mendengar jawaban itu dan berkata: Wih, lamanya, aku mau bicara serius. Tanpa membuang waktu saya mendesak untuk dia segera mengatakannya. Lalu dia jawab: Sebenarnya saya suka dengan kita (Kidang). Mendengar jawaban itu saya langsung spontan berteriak dengan hati girang: Yes. Sampai-sampai temen sekamar kaget,” papar Kidang.

Pulang dari Jakarta, Kidang langsung menemui Rusmini dan menjawab ungkapan hati Rusmini sembari membawakan oleh-oleh sesuai permintaanya, kerudung. “Saya juga suka dengan kamu, Dek, jika kamu mau menerima apa adanya. Tapi ada satu sayarat, tolong kamu berterus terang kepada istri kedua saya Mursidah,” kata Kidang kepada Rusmini.

Rusmini pun memberanikan diri menghubungi Mursidah. Saat itu, Rusmini memanggil Mursidah dengan sebutan: Mbok. Mursidah pun menceritakan isi percakapannya dengan Rusmini melalui sambungan telepon ketika Rusmini meminta izin untuk menikahi Kidang.

“Mbok, bolehkah saya (Rusmini) mengatakan sesuatu ke kita (Mursidah). Tapi janji dulu, sebelum saya berterus terang, Mbok jangan marah ya? Mbok langsung menjawab dengan dialeg daerah Kutai: ndik (tidak) leh (lah), apa itu, ayo kesahkan (ceritakan). Sebenarnya saya suka dengan suami kita (Kidang), tampak berjiwa besar, sabar, tulus, ikhlas. Mbok langsung menjawab: Kalau begitu tama (datanglah) ke rumah, ayo sama-sama kita merawat keturunan Pak Kidang,” ucap Mursidah.

Selepas percakapan itu, Kidang dan Rusmini menikah. Pada saat resepsi pernikahan digelar, Kidang dan Rusmini menitikan air mata mengenang kebesaran jiwa Mursidah. Bahkan, baju pengantin yang dikenakan Kidang-Rusmini, merupakan pemberian dari Murisidah. Saat pernikahan suaminya, Murisidah baru selesai melahirkan.

(adv/rina/riyan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *