Diversifikasi dan Kreativitas Usaha, Strategi Hadapi Pandemi

Balikpapan, Metrokaltim.com -Menghadapi dampak yang ditimbulkan pandemi Covid-19 merupakan perkara yang sangat berat. Hal ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, namun juga hampir seluruh negara-negara di dunia.

Pandemi memberikan banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat. Perubahan-perubahan ini merupakan sebuah pelajaran hidup. Karena tidak hanya menimbulkan dampak negatif, namun juga memberikan manfaat. Misalnya, bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Pandemi kali ini memang sangat berat. Tidak hanya di Indonesia, namun juga dunia. Tapi saya punya agenda, para pelaku UMKM lebih fleksibel dan kreatif. Membuat produk baru, terobosan baru, bahkan diverifikasi usaha yang lain,” kata Sri Pudjiastuti, pengusaha dan
aktivis, saat menjadi narasumber dalam talkshow “Bangga Buatan Indonesia” gelaran Bank Indonesia.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ke-6 Republik Indonesia tersebut juga mencontohkan dirinya dan sang putri, Nadine Pascale Kaiser Pudjiastuti. Pandemi ini membuat mereka mulai belajar berusaha.

“Seperti kita saja. Misalnya saya yang mendidik anak saya Nadine. Karena pandemi ini semua kumpul, mau tidak mau semua mulai belajar berusaha. Kami pun punya ide-ide baru. Bikin kafe lah, offline marchandise, online marchandise,” paparnya.

Usaha lain muncul, lanjutnya, karena mereka tidak mungkin terlalu mengharapkan existing Susi Air. Oleh karenanya, perlu melakukan beberapa usaha yang masih mungkin.

“Tadi ‘kan dari data BI sudah jelas, e-commerce naik. Justru peningkatannya lebih besar pada pandemi ini. Jadi, kalau para pelaku UMKM ini punya kreativitas yang jeli dan smart, tentunya opportunity-opportunity bisa dilakukan,” terang Susi.

Salah satu yang menguntungkan UMKM dengan adanya pandemi ini adalah terganggunya logistik atau konektivitas antar negara. Terganggunya konektivitas ini memungkinkan pemain domestik menjadi penyuplai kebutuhan daripada usaha yang sudah eksis.

“Dan kita harapkan membangkitkan swasembada. Jadi jika satu vision, semua dibuat dalam negeri, tentunya akan lebih baik,” ungkapnya.

Untuk mewujudkannya, Susi menjelaskan, semua stakeholder harus bahu-membahu membantu UMKM mengisi gap yang tidak terganggu Covid-19. Jika hal ini bisa dilakukan, dirinya yakin kreativitas UMKM akan sangat tinggi.

“Kapasitas produksi kita luar biasa. Banyak produk UMKM yang bisa dipasarkan sebagai merchandise. Misalnya, tas dari anyaman. Sebetulnya ethnic style itu sudah naik kembali dengan kesadaran orang untuk tidak menggunakan plastik. Kita semua ‘kan lebih suka yang etnis,” urainya.

Salah satu ethnic style yang disukai masyarakat berasal dari Dayak, Kalimantan. Tidak hanya marchandise, namun juga sektor kuliner yang kini telah dipasarkan secara daring.

“Jadi ya jangan putus asa. Karena justru ada beberapa efek positif dari pandemi, kita jadi punya waktu untuk memikirkan diversifikasi dan kreativitas yang baru,” pungkasnya.

(dah/riyan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *