Rutan di Balikpapan Tidak Manusiawi, Kamar Berkapasitas 3 Orang Diisi 10 Orang

Balikpapan, Metrokaltim.com – Rumah Tahanan (Rutan) Klas ll B Balikpapan benar-benar tidak manusiawi. Bagaimana tidak, penghuni rutan tersebut telah melampaui batasnya. Kondisi ini membuat penghuninya retan terserang penyakit.

Dari data yang dihimpun Metro Kaltim, Rutan Kelas II B Balikpapan seharusnya hanya mampu menampu menampung sekitar 350 orang. Namun, pada Kamis (27/2) kemarin, tercatat, rutan yang berada di kawasan Balikpapan Selatan ini memliki penghuni 1.054 orang. Artinya, rutan tersebut telah kelebihan penghuni sekitar 300 persen.

Namun 1.054 orang itu tidak murni tahanan. Sebagain dari mereka merupakan narapidanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Balikpapan. Sebab, lapas tersebut juga mengalami over kapasitas. Sehingga narapidananya terpaksa dititipkan di Rutan Kelas IIB Balikpapan.

Kondisi membuat para penghuni rutan tersebut harus hidup saling berdesakan. Kepala Rutan Kelas II B Balikpapan, Sopiana menyebut, setiap kamar di rutan tersebut berkapasitas tiga orang. Namun, saat ini setiap kamar diisi lebih tiga orang, bahkan ada yang 10 orang.

“Sekitar 700 orang diantaranya merupakan narapidana Lapas. Artinya, hanya 300 orang yang merupakan tahanan asli Rutan Kelas IIB Balikpapan,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, peningkatan kapasitas Rutan tentu sangat perlu dilakukan. Soal ini, Sopiana mengaku optimistis tahun ini akan terealisasi. Sebab ia telah menyusun perencanaan dan anggaran lalu berkoordinasi dengan pimpinan wilayah maupun pusat.

“Tentunya perlu peningkatan pelayanan, khususnya blok hunian. Agar warga binaan tidurnya tidak seperti ikan asin dan lebih manusiawi,” ujarnya.

Total jumlah warga binaan di Rutan Kelas II B Balikpapan.

Peningkatan kapasitas Rutan ini, lanjut Sopiana, sudah masuk tahap pengajuan dan menunggu keputusan dari pusat. “Saya menginginkan peningkatan pelayanan publik. Sehingga bisa dirasakan oleh pengunjung dan warga binaan itu sendiri,” ungkapnya.

Ditanya soal target, dirinya pun optimistis tahun ini bisa terealisasi setelah mendapatkan persetujuan dari pimpinannya. Hal ini guna mendukung visi misi dari Lapas untuk meningkatkan pelayanan.

“Saya sudah menyampaikan kepada pimpinan saya, mudahan dengan kondisi yang ada ini bisa berubah secepat mungkin supaya apa yang menjadi visi misi pemasyarakatan bisa terpenuhi,” ucapnya.

Namun demikian, ada sedikit kendala dalam perencanaan pembangunan Rutan ini. Sopiana menuturkan sejauh ini terkendala keterbatasan lahan yang ada. Meski begitu ada opsi lain. Yang paling efektif adalah meningkatkan blok rutan menjadi dua lantai.

“Hasil analisa, yang bisa kami lakukan karena area terbatas yakni meningkatkan bloknya dan tembok keliling, sehingga menambah kapasitas hunian. Teknisnya juga lagi kami koordinasikan, karena harus dibongkar dari bawah kalau mau ditingkat,” tandasnya.

Mahmudah (50) adalah orangtua yang anaknya menjadi penghuni Rutan Kelas IIB. Kepada awak media, dia mengatakan, anaknya kerap terserang penyakit gatal-gatal. Ia memperkirakan hal itu disebabkan oleh ruang tahanan yang sempit.

”Saya sering membelikan obat gatal. Lehernye merah-merah. Mungkin karena tidur berdempetan dan sirkulasi udara kurang,” singkatnya.

(sur/riyan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *