Metro Kaltim

Sulitnya Menikmati CSR Pertamina hingga Sakit Karena Proyek RDMP

Balikpapan, Metrokaltim.com – Meski hidup berdampingan dengan perusahaan besar, bukan berarti ada jaminan hidup sejahtera. Hal inilah yang dirasakan betul warga RT 40 di Jalan Pandan Arum, Kelurahan Karang Jati, Balikpapan Tengah.

Puluhan tahun hidup berdampingan dengan perusahaan minyak raksasa, PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan, tak membuat warga RT 40 itu makmur. Kemiskinan masih banyak terjadi di sana.

Bahkan, saat pewarta Metrokaltim.com mengunjunginya, Rabu (13/11) siang, kampung tersebut nampak kumuh. Tak sedikit rumah-rumah tua berbahan kayu mulai lapuk. Sampah-sampah pun menghiasi jalan di gang-gang kampung itu.

Ha tersebut diakui Ketua RT 40, Wahyu Effendi (53). Kata dia, masih banyak warganya yang belum bekerja. “Di sini ada sekitar 120 KK (kepala keluarga). Hampir setengahnya masih pengangguran. Kebanyakan yang bekerja menjadi ojek online aja,” katanya.

Usaha warga RT 40 untuk mendapatkan bantuan dari Pertamina bukan tidak ada. Ketua RT 40 menjelaskan, dahulu pihaknya pernah melakukan pertemuan dengan pihak Pertamina. Tujuannya untuk menuntut kesejahteraan warga RT 40 dari program CSR (corporate social responsibility) Pertamina.

Tuntutan tersebut bukan tanpa dasar. Menurut Undang-undang (UU) yang mengatur CSR, yaitu UU 40/2007, tentang Perseroan Terbatas dan UU 25/2007, tentang Penanaman Modal, ada tanggung jawab sosial dan lingkungan dari sebuah perusahaan untuk kampung di sekitarnya.

“Atas dasar itu kami pernah mengajukan CSR untuk perbaikan jalan di kampung kami, tapi sampai sekarang belum pernah dapat. Jadi jalan di sini masih banyak yang rusak,” jelas Wahyu.

Kondisi di lingkungan RT 40 Kelurahan Karang Jati, Balikpapan Tengah.

Selain UU yang mengatur CSR, Wahyu menambahkan, ada banyak sekali alasan mengapa Pertamina harus membantu warganya. Alasan lainnya, yakni, soal pekerjaan di kilang minyak perusahaan tersebut. Warga di sana kerap diganggu dengan suara bising yang berasal dari dalam minyak kilang minyak Pertamina RU V.

Bahkan, pembangunan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di kilang tersebut telah berdampak negatif kepada warga. “Saya pernah dapat laporan ada warga yang batuk-batuk dan demam gara-gara debu dari proyek itu,” tambahnya.

Ditanya apakah ada warganya yang bekerja di proyek RDMP Balikpapan, Wahyu menjawab tak ada sama sekali. “Dulu pernah ada forum di kelurahan dengan Pertamina, dijanjikan akan ada warga kami kerja di sana. Tapi enggak pernah ada, cuma janji aja,” tandasnya.

Soal sulitnya mendapat bantuan program CSR Pertamina juga dirasakan warga RT 32, Karang Jati. Ketua RT 32, Binti Kasiati (55) mengatakan, kampungnya termasuk Kampung Keluarga Berencana (KB) Karang Anyar Bersatu.

“Kebetulan saya sendiri ketuanya Kampung KB di sini,” kata perempuan berkerudung itu.

Nah, untuk memajukan Kampung KB Karang Anyar Bersatu, pihaknya pernah mengajukan proposal bantuan kepada CSR Pertamina. Namun sampai detik ini, belum ada CSR Pertamina bisa dinikamti Kampung KB Karang Anyar Bersatu.

Banyaknya anak-anak yang tinggal berdampingan dengan proyek RDMP, perlu mendapatkan perhatian lebih.

Hal tersebut membuat Binti heran. Pasalnya, jarak dari kampungnya dengan kilang minyak Pertamina yang hanya sekitar 500 meter, sudah sepantasnya mendapat bantuan nyata dari perusahaan tersebut.

“Bulan September 2019 kemarin saya diajak pemerintah untuk belajar di kampung yang masuk ring satunya Pertamina Cilacap. Warga di sana mengatakan sering mendapatkan CSR dari Pertamina Cilacap. Di sini kok malah susah ya,” keluhnya.

Padahal, Binti menerangkan, Kampung KB Karang Anyar Bersatu kerap mengharumkan nama Balikpapan. Tak sedikit penghargaan, mulai tingkat lokal hingga nasional, seringa didapat Kampung KB ini.

“Kan Kampung KB itu ada lombanya. Tingkat provinsi kami pernah dapat juara dua. Di nasional Kampung KB kami berada diurutan ke delapan,” ungkapnya.

Namun nasib warga RT 32 sedikit beruntung ketimbang warga RT 40. Dari hampir 100 KK, beberapa warga RT 32 ada yang bekerja di proyek RDMP Balikpapan.

“Ada dua kalau enggak salah yang kerja di sana. Ya, disesuaikan dengan skilnya juga, ada yang jadi sekuriti ada yang cuma bersih-bersih,” beber Ketua RT 32.

Bahkan program CSR Pertamina juga pernah dirasakan warga RT 32. “Bulan puasa kemarin kami ada dapat bingkisan parsel dari Pertamina. Lebaran Iduladha juga ada bantuan sapi dari sana,” ucapnya.

Dia juga mengaku belum pernah menerima laporan ada warganya yang terkena dampak negatif dari proyek RDMP Balikpapan. “Ya, debu-debu dari sana sih pasti ada, karena kan terbawa angin. Tapi belum ada warga kami yang sakit karena itu,” tutupnya.

(sur/riyan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *