Metro Kaltim

Warga Muara Rapak Tewas Gantung Diri, Warga Sebut Korban Sosok Ramah dan Ceria

Balikpapan, Metrokaltim.com – Warga di Jalan Arjuna I Gunung Polisi, Nomor 30, RT 66, Kelurahan Muara Rapak, Balikpapan Utara, geger. Sesok mayat ditemukan mengantung di salah satu rumah di kawasan tersebut, pada Kamis (2/1) siang.

Diketahui, mayat tersebut bernama Mugi Rahayu (31). Pria kelahiran Balikpapan, 23 Oktober 1988, itu tinggal di RT 66, Nomor 30, Muara Rapak. Dirumahnya, dia tinggal berdua bersama bapaknya. Sedangkan ibunya tinggal di Jawa Tengah.

Wahono warga RT 66 di Muara Rapak, mengatakan, Mugi pertama kali ditemukan oleh bapaknya sekira pukul 13.00 Wita. Saat itu, sang bapak teriak-teriak minta tolong. Mendengar teriakan, Wahono bergegas mendatangi sumber suara.

Saat didatangin, dia melihat tubuh Mugi sudah mengantung di langit-langit rumahnya, dengan lehernya terikat tali. Bersama warga, ia menurunkan tubuh Mugi ke lantai. Namun saat itu nyawanya sudah melayang.

Polisi lakukan olah TKP di lokasi gantung diri.

“Saya kira mama saya yang teriak-teriak kan, saya kira ada apalagi di sebelah rumah ini. Ternyata pas saya datangi sudah tergantung. Saya turunkan secapatnya, saya potong tali gantungannya pakai pisau,” katanya di lokasi kejadian.

Lebih lanjut, Wahono mengaku jarang berkomunikasi dengan Mugi. Sebab, dia jarang berada di rumahnya karena sibuk bekerja. Meski begitu, dia menyebut, Mugi adalah sosok yang rajin dan ramah. Oleh karena itu, Wahono tak tahu mengapa Mugi nekat gantung diri.

“Kadang-kadang kalau ada perbaikan, dia ikut. Kami kan lagi bangun pos kamling juga, dia aktif ikut. Sama warga enggak ada masalah, selalu negur-negur kami,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Parmi, warga RT 66 di Muara Rapak lainnya. Kata dia, Mugi dikenal sebagai pemuda yang ceria. Dia mengaku tak pernah milihat atau mendengar Mugi ribut dengan siapapun, sehingga dia juga tak tahu mengapa korban gantung diri. “Baik-baik saja. Pemuda bagus dia, orang ceria. Yang bangun pos ini loh dia,” katanya.

Dijelaskan Parmi, Mugi tinggal di RT 66, Muara Rapak, sejak lahir. Saat ini, Mugi tinggal berdua dengan bapaknya. Sedangkan ibunya tinggal di Solo. Sebelum meninggal dunia, dia pernah bekerja di layanan ekspedisi barang, namun diberhentikan. “Setelah itu dia kerja di Sepinggan (Balikpapan Selatan) sama orang sini juga,” tandasnya.

Sementara itu, Kapolsek Balikpapan Utara, AKBP Supartono Sudin memastikan, Mugi bukan korban pembunuhan. Kata dia, dari hasil olah TKP sementara pihak kepolisian, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

“Tapi kalau tanda-tanda orang bunuh diri tadi sudah ada ditemukan, seperti keluar air mani dari korban. Terus kemudian ditemukan juga barang bukti tali, ada kursi juga. Kemudian kami juga periksa itu korban, lehernya memang ada bekas lilitan tali,” katanya. Dia menduga, Mugi gantung diri belum lama. “Karena masih hangat badannya,” tambah perwira melati dua di pundak itu.

Setelah ditemukan tewas, oleh warga dan tim medis, jasad Mugi dievakuasi ke RSUD Kanujoso Djatiwibowo untuk menjalani visum. Supartono menegaskan, pihaknya akan terus menelusuri penyebab kematian Mugi. “Sementara masih dalam penyelidikan. Kan baru di TKP ini,” pungkasnya.

(sur/riyan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *