Terbongkar, Oknum AVSEC Bandara Supadio Diduga Jadi Pelicin Peredaran Etomidate ke Balikpapan

BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalimantan Timur mengungkap dugaan keterlibatan petugas keamanan bandara dalam pengiriman zat berbahaya jenis etomidate melalui jalur udara dari Pontianak menuju Balikpapan.

Dalam pengungkapan tersebut, polisi menetapkan seorang oknum Aviation Security (AVSEC) Bandara Supadio Pontianak berinisial MH sebagai tersangka. MH diduga membantu meloloskan pengiriman etomidate yang dibawa seorang kurir berinisial FP.

Direktur Reserse Narkoba Polda Kaltim Kombes Pol Romylus Tamtelahitu mengatakan, kasus ini terungkap setelah polisi menerima informasi masyarakat mengenai aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan peredaran etomidate lintas provinsi.

“Dari hasil penyelidikan Subdit I, diketahui barang dikirim dari Pontianak ke Balikpapan dan dibawa oleh pelaku FP,” ujar Romylus.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, FP diduga hanya berperan sebagai kurir atas permintaan seorang buronan yang berada di Samarinda. Buronan tersebut disebut meminta pasokan etomidate dari jaringan di Pontianak.

Polisi menduga pengiriman barang itu tidak dilakukan sendiri oleh FP. Dalam prosesnya, tersangka mendapat bantuan dari MH yang bertugas di Bandara Supadio Pontianak.

“Yang bersangkutan diduga melakukan permufakatan jahat untuk membantu meloloskan barang tersebut,” kata Romylus.

Dari keterlibatannya, MH disebut menerima imbalan sebesar Rp24 juta. Kepada penyidik, uang itu diakui digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar utang.

Kasus ini menjadi perhatian karena kembali menyeret oknum aparat maupun petugas keamanan dalam jaringan peredaran zat berbahaya di Kalimantan Timur. Sebelumnya, publik juga dihebohkan dengan dugaan keterlibatan oknum anggota kepolisian yang menjabat Kasat Resnarkoba Polres Kutai Kartanegara dalam perkara serupa.

Polda Kaltim memastikan proses hukum akan dilakukan tanpa pandang bulu terhadap siapa pun yang terlibat dalam jaringan narkotika dan obat berbahaya, termasuk aparat internal maupun petugas bandara.

Hingga kini, penyidik masih memburu seorang DPO yang diduga menjadi pengendali jaringan etomidate lintas Kalimantan tersebut.

Penulis: Ries

Editor: Alfa

46

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.