Graha Indah Jadi Percontohan Pengelolaan Limbah Popok, Dorong Pengurangan Sampah ke TPA
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Limbah popok bayi yang selama ini menjadi salah satu penyumbang sampah rumah tangga kini mulai mendapat perhatian serius di Kota Balikpapan. Kelurahan Graha Indah, Balikpapan Utara (Balut) ditunjuk sebagai wilayah percontohan Gerakan Pilah Limbah Popok (GPLP) untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Program tersebut diperkenalkan melalui kegiatan edukasi kepada kader posyandu yang digelar Kelurahan Graha Indah bersama Reenetix Indonesia, Sabtu (30/5/2026). Sebanyak 100 kader dari 10 posyandu dilibatkan untuk menjadi penggerak pemilahan limbah popok di lingkungan masyarakat.
“Limbah popok bayi merupakan salah satu jenis sampah rumah tangga yang jumlahnya cukup besar dan selama ini langsung dibuang ke TPA tanpa melalui proses pemilahan,” ucap Lurah Graha Indah, Muhammad Arif Rahman kepada media.
Menurutnya, pengelolaan limbah popok menjadi langkah penting dalam mendukung program pengurangan sampah yang tengah dijalankan Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan.
“Balikpapan terus berupaya menekan volume sampah yang masuk ke TPA. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah memilah limbah popok bayi agar dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang memiliki manfaat,” ujarnya.
Program GPLP merupakan pengembangan dari inovasi pengolahan limbah popok yang digagas Rohman, Juara Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Kecamatan Balut. Melalui metode yang dikembangkan, limbah popok yang telah dipilah dapat diolah menjadi bahan yang bermanfaat, termasuk untuk kebutuhan pupuk.
Selain berdampak pada lingkungan, program ini juga membuka peluang pemanfaatan limbah yang memiliki nilai ekonomi.
“Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna, berpotensi menjadi produk yang lebih bernilai setelah melalui proses pengolahan,” terangnya.
Dalam tahap awal pelaksanaan, para kader posyandu akan mengedukasi warga untuk memisahkan limbah popok dari sampah rumah tangga lainnya. Limbah yang telah dipilah kemudian dikumpulkan dan diserahkan kepada tim pengelola untuk diproses lebih lanjut.
Arif menjelaskan, keterlibatan kader posyandu dipilih karena mereka memiliki kedekatan dengan keluarga yang memiliki bayi dan balita, sehingga dinilai efektif dalam menyebarluaskan edukasi kepada masyarakat.
“Para kader akan menjadi motor penggerak di lingkungan masing-masing. Harapannya, kesadaran masyarakat untuk memilah limbah popok dapat tumbuh dari tingkat keluarga,” katanya.
Kelurahan Graha Indah menjadi wilayah pertama yang menerapkan program tersebut di Balikpapan. Jika berjalan efektif, model pengelolaan limbah popok ini diharapkan dapat diterapkan di kelurahan lain sebagai bagian dari upaya pengurangan sampah kota.
Melalui kolaborasi antara pemerintah kelurahan, kader posyandu, dan komunitas lingkungan, GPLP diharapkan tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga mendorong lahirnya budaya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab di tengah masyarakat.
Penulis: Rie
Editor: Alfa
55
