Peserta Pelatihan SPPI Koperasi Desa Merah Putih Meninggal Dunia di Balikpapan

BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Seorang peserta didik Pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa Merah Putih dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti pendidikan dan pelatihan di Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Peserta yang meninggal dunia tersebut diketahui bernama Annisa Muyassaroh, yang berasal dari Jawa Timur. Kabar duka itu dibenarkan oleh Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) VI/Mulawarman, Kolonel Inf Gatot Teguh Waluyo.

Dalam keterangannya kepada awak media, Gatot menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya peserta didik tersebut. Ia mengatakan bahwa pihak Kodam VI/Mulawarman turut berduka cita atas kepergian almarhumah.

“Dengan adanya berita meninggalnya satu peserta didik di kelas SPPI KDKMP atas nama Annisa Muyassaroh yang berasal dari Jawa Timur, memang benar adanya. Kami keluarga besar Kodam VI/Mulawarman mengucapkan turut belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian almarhumah. Semoga diberikan tempat terbaik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, ketabahan, serta kekuatan,” ujar Gatot (24/6).

Menurutnya, almarhumah merupakan peserta program SPPI Koperasi Desa Merah Putih yang sedang menjalani pendidikan di lingkungan Dodikjur Rindam VI/Mulawarman. Gatot menegaskan bahwa seluruh kegiatan pelatihan telah dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku.

Ia menjelaskan bahwa selama pelaksanaan pendidikan, para peserta mendapatkan pendampingan secara melekat dari unsur pelatih, pendamping, pendukung, hingga tenaga kesehatan.

“Saya memastikan bahwa seluruh prosedur dalam kegiatan yang diselenggarakan sudah berjalan sesuai ketentuan. Dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan, pendampingan selalu dilakukan oleh pelatih, pendamping, unsur pendukung, serta tenaga kesehatan yang selalu melekat kepada peserta didik,” katanya.

Gatot juga menekankan bahwa kegiatan yang dilaksanakan tidak berfokus pada aktivitas fisik berat. Menurutnya, pelatihan lebih banyak diisi dengan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.

“Perlu digarisbawahi bahwa kegiatan yang dilaksanakan sama sekali tidak melibatkan kegiatan fisik yang berat. Kegiatan lebih dominan pada proses belajar mengajar di kelas,” tegasnya.

Terkait penanganan saat kejadian, Gatot menyebut bahwa prosedur penanganan medis telah dilakukan secara cepat dan sesuai tahapan. Awalnya, peserta mendapatkan pemeriksaan di lokasi sebelum dibawa ke klinik kesehatan yang berada di lingkungan Dodikjur.

Karena kondisi almarhumah tidak menunjukkan perkembangan yang membaik, petugas kemudian merujuknya ke Rumah Sakit Tk II Dr. Harjanto milik Kodam VI/Mulawarman untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

“Saya memastikan bahwa prosedur penanganan pada saat kejadian sudah dilaksanakan dengan tepat. Diawali dengan pemeriksaan di lapangan, kemudian dibawa ke klinik kesehatan di Dodikjur. Karena kondisi yang bersangkutan tidak membaik, segera dirujuk ke Rumah Sakit Dr. Harjanto untuk mendapatkan penanganan lanjutan,” jelasnya.

Saat ini, pihak Kodam VI/Mulawarman masih melakukan pendalaman untuk mengetahui secara pasti penyebab meninggalnya peserta didik tersebut. Hasil pendalaman akan disampaikan kepada publik setelah proses selesai dilakukan.

Selain itu, Kodam VI/Mulawarman juga memberikan pendampingan kepada keluarga almarhumah, termasuk dalam proses pemulangan jenazah hingga ke rumah duka.

“Kami membantu proses pemulangan jenazah dan memberikan pendampingan sampai ke rumah duka sebagai bentuk tanggung jawab dan penghormatan kepada almarhumah. Kami berharap seluruh proses dapat berjalan dengan baik dan lancar,” pungkas Gatot.

Penulis: Ries

Editor: Alfa

39

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *