Kasus DBD di Balikpapan Tembus 326, Pemerintah Perkuat Vaksinasi dan Pencegahan
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com — Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Balikpapan masih menunjukkan tren yang perlu diwaspadai. Hingga pekan ke-9 tahun 2026, tercatat sebanyak 326 kasus yang tersebar hampir di seluruh wilayah kota.
Meski jumlah kasus tergolong tinggi, pemerintah memastikan belum ada laporan kematian akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, Alwiati menerangkan, bahwa kondisi ini masih dalam pengawasan ketat.
“Kasus DBD sampai minggu ke-9 tahun 2026 tercatat sebanyak 326 kasus dan tersebar hampir di seluruh kelurahan di Kota Balikpapan. Namun sejauh ini tidak ada laporan kematian,” ucap Alwiati kepada awak media, Jumat (27/3/2026).
Ia menjelaskan, angka insiden (incidence rate/IR) DBD di Balikpapan saat ini mencapai 47,19 per 100 ribu penduduk. Angka ini menjadi indikator penting dalam melihat tingkat penyebaran penyakit di suatu wilayah.
Wilayah dengan jumlah kasus tertinggi masih didominasi kawasan padat penduduk seperti Balikpapan Selatan dan Balikpapan Utara. Kepadatan hunian dinilai menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat penyebaran DBD.
“Kasus paling banyak ditemukan di wilayah dengan kepadatan tinggi,” jelasnya.
Sebagai langkah pengendalian, Dinas Kesehatan telah menjalankan program vaksinasi DBD bagi anak-anak sekolah. Program ini difokuskan di wilayah dengan tingkat kasus tinggi.
Pada Januari 2026, sekitar 5.000 anak sekolah di Balikpapan Utara dan Balikpapan Selatan telah menjadi sasaran vaksinasi. Program tersebut kini telah rampung dilaksanakan di wilayah prioritas.
“Vaksinasi DBD untuk anak sekolah sudah selesai 100 persen di wilayah sasaran,” imbuh Kadinkes.
Menurutnya, vaksinasi mulai memberikan dampak positif terhadap pengendalian kasus, meskipun evaluasi lanjutan masih terus dilakukan untuk memastikan efektivitasnya dalam jangka panjang.
Ke depan, pemerintah berencana memperluas cakupan vaksinasi ke wilayah lain, menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran.
“Bahkan, vaksinasi diharapkan dapat diberikan lebih dini sebelum anak memasuki usia sekolah,” lanjutnya.
Selain vaksinasi, upaya pencegahan berbasis masyarakat tetap menjadi kunci utama. Warga diimbau rutin melakukan gerakan 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
“Peran masyarakat sangat penting. Kami berharap kesadaran menjaga kebersihan lingkungan terus ditingkatkan agar penyebaran DBD dapat ditekan,” harapnya.
Pemerintah menegaskan bahwa kombinasi antara vaksinasi, pengendalian lingkungan, dan partisipasi masyarakat menjadi strategi utama untuk menekan kasus DBD di Balikpapan sepanjang tahun 2026. (Adv Diskominfo Balikpapan)
Penulis: Ar
Editor: Alfa
89
