Ketergantungan Pangan Tinggi, Balikpapan Andalkan Rehabilitasi Lahan untuk Perkuat Produksi Lokal
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Tingginya ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah menjadi tantangan utama bagi Kota Balikpapan. Pemerintah kota kini memfokuskan strategi pada rehabilitasi lahan pertanian yang ada guna memperkuat produksi pangan lokal di tengah keterbatasan lahan.
Data Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) menunjukkan, sekitar 90 persen kebutuhan pangan masyarakat Balikpapan masih dipasok dari luar daerah. Bahkan, untuk komoditas beras, ketergantungan tersebut hampir mencapai 100 persen.
Kepala DKP3 Balikpapan, Sri Wahyuningsih, menyebut kondisi ini tidak lepas dari terbatasnya lahan sawah produktif. Dari total 98 hektare kawasan yang masuk dalam Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B), hanya sekitar 40 hektare yang siap ditanami.
“Sebagian besar lahan lainnya masih berupa vegetasi lebat, sehingga belum bisa dimanfaatkan secara optimal,” kata Yuyun sapaan akrabnya, Rabu (25/3/2026).
Alih-alih membuka lahan baru, pemerintah memilih fokus pada rehabilitasi sawah yang sudah ada. Langkah ini dinilai lebih realistis dibandingkan program cetak sawah baru yang membutuhkan waktu dan biaya besar.
Rehabilitasi dilakukan dengan memperbaiki infrastruktur dasar seperti pematang, irigasi, serta kondisi lahan agar kembali produktif.
“Ini bukan cetak sawah baru, tetapi mengoptimalkan lahan yang sebelumnya sudah pernah menjadi sawah,” jelasnya.
Saat ini, petani di Balikpapan tersebar di berbagai kecamatan, namun produksi yang dihasilkan masih terbatas dan umumnya hanya mencukupi kebutuhan sendiri. Sebagian hasil panen juga diserap oleh Bulog sebagai cadangan pangan pemerintah.
Di sisi lain, keberadaan Bulog memberikan kepastian harga bagi petani. Gabah dihargai sekitar Rp6.500 per kilogram, sehingga membantu menjaga stabilitas pendapatan mereka. Pemerintah kota berharap, melalui rehabilitasi lahan dan pendampingan petani, kapasitas produksi dapat meningkat secara bertahap.
“Upaya ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pangan dari luar daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal,” tuturnya.
Dengan keterbatasan lahan yang dimiliki, optimalisasi menjadi kunci agar sektor pertanian Balikpapan tetap bertahan dan berkembang. (Adv Diskominfo Balikpapan)
Penulis: Ar
Editor: Alfa
161
