Mendikdasmen Abdul Mu’ti, 21 Sekolah di Kaltim Dapat Revitalisasi, Samarinda Serap Porsi Terbesar
FOTO: Mendikdasmen Abdul Mu’ti senam bersama ribuan pelajar dan menandatangani prasasti revitalisasi sekolah di BSCC Dome, Balikpapan, Jumat (5/6)/ doc/ Ries.
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Distribusi program revitalisasi sekolah di Kalimantan Timur kembali menunjukkan dominasi Kota Samarinda. Dari 21 satuan pendidikan yang ditetapkan sebagai penerima awal program tahun anggaran 2026, lebih dari separuhnya berada di ibu kota provinsi tersebut.
Penetapan itu ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dalam agenda di Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC) Dome, Jumat (5/6). Selain menetapkan penerima baru, pemerintah pusat juga meresmikan rampungnya proyek revitalisasi tahun sebelumnya.
Menteri Abdul Mu’ti menjelaskan, program ini dijalankan secara berkelanjutan antara penyelesaian proyek lama dan percepatan realisasi program baru. Menurutnya, tingginya serapan anggaran tahun 2025 menjadi faktor pendorong dimulainya lebih awal sebagian proyek 2026.
Secara nasional, pemerintah mengalokasikan anggaran awal Rp14 triliun untuk revitalisasi 11.744 sekolah. Angka tersebut berpotensi meningkat hingga menyasar lebih dari 70 ribu satuan pendidikan apabila tambahan anggaran yang diajukan ke Kementerian Keuangan disetujui penuh.
Di Kalimantan Timur, dari 806 usulan yang masuk, sebanyak 341 sekolah dinyatakan lolos verifikasi. Hingga kini, 59 sekolah telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan nilai kontrak lebih dari Rp63 miliar, dan sebagian di antaranya sudah memasuki tahap pencairan dana.
Namun, distribusi penerima manfaat menunjukkan konsentrasi yang cukup tinggi di Samarinda. Dari 21 sekolah yang dinilai paling siap menjalankan program 2026, sebanyak 12 berada di kota tersebut. Sementara Balikpapan memperoleh lima sekolah dan Kabupaten Penajam Paser Utara empat sekolah.
Kondisi serupa juga terjadi pada realisasi anggaran tahun 2025. Dari total Rp253,7 miliar yang digelontorkan untuk 286 sekolah di Kaltim, Samarinda menyerap sekitar Rp59,5 miliar untuk 52 sekolah. Jumlah ini melampaui daerah lain seperti Penajam Paser Utara dan Balikpapan yang menerima porsi lebih kecil.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa alokasi anggaran tidak ditentukan berdasarkan wilayah, melainkan pada tingkat kebutuhan masing-masing sekolah. Prioritas utama diberikan kepada sekolah terdampak bencana, wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta bangunan dengan tingkat kerusakan berat.
Selain pembangunan fisik, Abdul Mu’ti juga mendorong penguatan lingkungan pendidikan melalui program Gerakan Indonesia ASRI. Upaya ini difokuskan pada penciptaan sekolah yang aman, sehat, bersih, dan berkarakter.
Kegiatan tersebut turut diiringi peluncuran program Pagi Ceria yang melibatkan ribuan siswa dan guru di Kaltim. Program ini menggabungkan aktivitas kebangsaan, olahraga, dan pembinaan spiritual sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.
Pemerintah berharap, kombinasi antara perbaikan infrastruktur dan penguatan budaya sekolah dapat mendorong peningkatan kualitas pendidikan secara merata di seluruh wilayah, termasuk daerah yang selama ini belum tersentuh optimal, pungkas Abdul Mu’ti.
Penulis: Ries
Editor: Alfa
42
