BMKG: Gelombang Tinggi di Balikpapan Dipicu Angin Monsun Australia dan Siklon Tropis

BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balikpapan menjelaskan fenomena gelombang tinggi yang terjadi di perairan Balikpapan beberapa waktu lalu dipengaruhi oleh pola angin monsun Australia yang diperkuat keberadaan Siklon Tropis. Kondisi tersebut menyebabkan angin bertiup lebih kencang sehingga memicu peningkatan tinggi gelombang di wilayah pesisir Kalimantan Timur.

Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, mengatakan gelombang yang terjadi saat itu masih berada dalam kategori sedang dengan ketinggian berkisar antara 1,25 hingga 2 meter.

“Berdasarkan informasi cuaca dan maritim yang kami peroleh, gelombang pada saat kejadian berada dalam kategori sedang, yakni berkisar antara 1,25 hingga 2 meter,” ujarnya.

Menurut Huda, tingginya gelombang dipicu oleh pola angin monsun Australia yang menarik massa udara dari arah tenggara menuju barat laut. Kondisi tersebut semakin menguat akibat pengaruh Siklon Tropis yang berkembang di kawasan timur laut Laut Filipina.

“Angin monsun Australia diperkuat oleh Siklon Tropis sehingga kecepatan angin di sekitar Kalimantan Timur meningkat. Gesekan angin dengan permukaan laut menjadi lebih intens dan akhirnya memicu gelombang tinggi di wilayah Balikpapan dan Penajam Paser Utara,” jelasnya.

Ia menambahkan, rata-rata tinggi gelombang di perairan Balikpapan saat kejadian berkisar antara 1,25 hingga 1,5 meter. Meski tergolong sedang, kondisi tersebut tetap berisiko bagi aktivitas di wilayah pesisir, terutama bagi nelayan yang menggunakan perahu berukuran kecil maupun kegiatan wisata bahari.

Sementara itu, pada kondisi normal, tinggi gelombang di perairan Kalimantan Timur umumnya berada di bawah 1,25 meter. Hal tersebut dipengaruhi karakteristik laut yang relatif dangkal serta terlindungi oleh gugusan pulau di bagian selatan Indonesia.

Huda menjelaskan pola angin monsun Australia merupakan salah satu penanda musim kemarau di Indonesia. Pada periode ini, potensi peningkatan kecepatan angin di sejumlah wilayah memang dapat terjadi.

Meski demikian, BMKG memperkirakan kondisi gelombang akan berangsur menurun dalam beberapa hari ke depan seiring melemahnya Siklon Tropis setelah bergerak menuju daratan China.

“Diperkirakan tinggi gelombang dalam dua hingga tiga hari ke depan akan menurun hingga di bawah 1,25 meter. Namun, keselamatan pelayaran tetap bergantung pada ukuran kapal dan kondisi angin saat itu,” katanya.

BMKG juga mengimbau masyarakat pesisir dan nelayan untuk terus memantau informasi cuaca sebelum beraktivitas di laut. Huda menegaskan pihaknya secara rutin menerbitkan peringatan dini pelayaran sebagai bentuk sistem peringatan dini guna meminimalkan risiko akibat cuaca dan gelombang tinggi.

Penulis: Ries

Editor: Alfa

37

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *