Krisis Dokter Bedah Vaskular di Indonesia, Hanya 1 untuk 2 Juta Penduduk
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Indonesia tengah menghadapi krisis tenaga ahli di bidang bedah vaskular. Saat ini, jumlah dokter spesialis bedah vaskular di tanah air hanya sekitar 140 orang untuk melayani 280 juta penduduk, atau setara satu dokter untuk dua juta jiwa.
Kondisi ini diungkapkan oleh Dr. dr. R. Suhartono, Sp.B, Subsp. BVE (K), Spesialis Bedah Vaskular dan Endovaskuler Konsultan, dalam kegiatan Media Tour 2025: Health Talk Update Penanganan Bedah Vaskular yang digelar RS Premier Bintaro di Balikpapan, Kamis (30/10/2025).
Menurut Suhartono, angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat yang memiliki rasio satu dokter vaskular untuk setiap 100.000 penduduk.
“Idealnya Indonesia membutuhkan 500 hingga 600 dokter bedah vaskular agar layanan bisa menjangkau seluruh daerah,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyebaran dokter spesialis ini juga belum merata karena keterbatasan fasilitas, peralatan medis, dan dukungan bagi tenaga kesehatan di daerah.
“Kita tidak bisa hanya mengirim dokter ke daerah. Harus ada jaminan kesejahteraan, fasilitas, dan keamanan keluarga mereka,” katanya.
Selain kekurangan tenaga ahli, Suhartono menyoroti mahalnya biaya tindakan bedah vaskular di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan pada alat medis impor yang bersifat sekali pakai (single use), seperti kateter, balon, dan stent.
“Satu tindakan bisa menelan biaya puluhan juta rupiah. Sebagian besar alat masih diimpor dari Eropa, Amerika, hingga Asia Timur,” jelasnya.
Suhartono menegaskan, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit vaskular turut memperburuk situasi. Padahal, gangguan pada pembuluh darah dapat menyebabkan komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, hingga amputasi.
“Pencegahan yang paling efektif adalah dengan menjaga gaya hidup sehat — mengatur pola makan, tidak merokok, cukup istirahat, dan rutin memeriksa tekanan darah, kolesterol, serta gula darah,” sarannya.
Sementara itu, Chintami Handayani Passat, Marketing Manager RS Premier Bintaro, menyebut kegiatan edukasi di Balikpapan ini merupakan bagian dari upaya rumah sakit untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap penyakit vaskular serta memperkuat jejaring informasi kesehatan.
“Selain edukasi, kami juga berupaya memudahkan akses pasien dari luar daerah melalui layanan antar-jemput bandara dan kerja sama dengan hotel di sekitar rumah sakit,” ungkapnya.
RS Premier Bintaro berencana memperkuat layanan vaskular dan ortopedi pada tahun depan dengan menghadirkan peralatan medis terbaru dan teknologi yang lebih efisien. “Kami berkomitmen untuk terus berinovasi agar pasien mendapatkan pelayanan terbaik,” pungkasnya.
Penulis: Ar
Editor: Alfa
418
