PKK Balikpapan Utara Ubah Potensi Lokal Jadi Program Nyata, Dari Singkong hingga Kelurahan Digital
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Potensi lokal yang selama ini dianggap biasa kini mulai diubah menjadi kekuatan pembangunan di enam kelurahan di Kecamatan Balikpapan Utara (Balut). Melalui program tematik yang digerakkan Tim Penggerak PKK, setiap kelurahan didorong memiliki identitas sekaligus solusi sesuai kebutuhan warganya.
Langkah tersebut mulai dijalankan setelah pelantikan kepengurusan TP-PKK tingkat kecamatan dan kelurahan. Berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang cenderung berfokus pada kegiatan rutin, PKK kini diarahkan menjadi motor penggerak inovasi berbasis potensi wilayah.
Camat Balut, Umar Adi mengatakan, program yang dikembangkan setiap kelurahan tidak dibuat secara seragam. Masing-masing disusun berdasarkan karakteristik dan peluang yang dimiliki wilayah setempat agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Setiap kelurahan punya kekuatan yang berbeda. Kami ingin potensi itu dikembangkan menjadi program yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga,” ujarnya, Minggu (1/2/2026).
Di Kelurahan Graha Indah, misalnya, pengembangan bawang tiwai menjadi fokus utama. Komoditas lokal tersebut didorong menjadi identitas wilayah sekaligus peluang usaha bagi masyarakat.
Sementara itu, Kelurahan Karang Joang memaksimalkan singkong sebagai produk unggulan. Tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, singkong diolah menjadi berbagai produk pangan seperti opak dan tapai yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Di bidang lingkungan, Kelurahan Muara Rapak menjalankan program Masbima (Masyarakat Bijak Mengelola Alam). Program ini mengajak warga lebih aktif mengelola sampah, memperkuat Kampung ProKlim, serta membangun budaya hidup bersih dan sehat,” akunya.
Transformasi juga dilakukan melalui pemanfaatan teknologi. Kelurahan Gunung Samarinda Baru mencanangkan diri sebagai Kelurahan Digital, dengan penguatan sistem data kependudukan dan pelaporan berbasis teknologi yang terintegrasi dengan data PKK dan Badan Pusat Statistik (BPS).
Sedangkan Kelurahan Gunung Samarinda memanfaatkan platform digital untuk memperluas pemasaran produk warga melalui pengembangan Kampung UP2K dan UMKM Digital. Langkah ini diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha mikro.
“Adapun Kelurahan Batu Ampar menggabungkan sektor ekonomi dan pariwisata melalui program pengelolaan UP2K berbasis pangan lokal. Komoditas melon yang menjadi unggulan wilayah dikembangkan sebagai bagian dari konsep kampung wisata,” imbuhnya.
Menurut Umar Adi, seluruh program tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan konsep Kelurahan Madani, yakni kelurahan yang mandiri, inovatif, dan mampu berkembang berdasarkan kekuatan yang dimiliki masyarakatnya.
“Tujuan akhirnya bukan hanya menjalankan program PKK, tetapi menciptakan ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan. Ketika keluarga berdaya, maka kelurahan juga akan semakin maju,” katanya.
Melalui pendekatan ini, Balikpapan Utara ingin menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Inovasi yang lahir dari lingkungan sekitar, mulai dari pengolahan singkong, pengembangan bawang tiwai, penguatan UMKM hingga digitalisasi layanan, dapat menjadi langkah nyata menuju kesejahteraan masyarakat.
Penulis: Rie
Editor: Alfa
9
