Pemulihan Habitat Jadi Kunci Kembalinya Orang Utan ke Alam, PHI Perkuat Konservasi di Kalimantan

BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Upaya mengembalikan orang utan ke habitat alaminya tidak berhenti pada proses rehabilitasi satwa. Ketersediaan hutan yang sehat, sumber pakan alami, serta ruang hidup yang memadai menjadi bagian penting agar orang utan dapat bertahan hidup secara mandiri di alam.

Hal tersebut menjadi perhatian PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) dalam mendukung konservasi orang utan di Kalimantan. Melalui kolaborasi dengan Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, PHI bersama anak perusahaannya, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), serta afiliasinya, PT Pertamina EP (PEP) Sangasanga Field dan Tanjung Field, turut mendukung rehabilitasi orang utan sekaligus pemulihan habitatnya.

Dukungan diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari program adopsi orang utan, penyediaan pakan, perawatan kesehatan, obat-obatan, pemeriksaan medis, enrichment, hingga pembelajaran berbagai kemampuan yang dibutuhkan satwa sebelum kembali ke alam.

Pada sisi habitat, PHM antara lain melakukan penanaman 400 pohon di area seluas satu hektare. Vegetasi yang ditanam terdiri atas Bengkirang, Balangeran, Shorea leprosula, dan Kapur. Area tersebut selanjutnya akan dipelihara dan diamankan selama lima tahun untuk menjaga pertumbuhan vegetasi sekaligus mendukung proses pemulihan ekosistem.

Direktur Utama PHI, Muharram Jaya Panguriseng, mengatakan konservasi orang utan merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasi hulu migas secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Menurut dia, keberadaan lingkungan yang lestari menjadi salah satu faktor yang mendukung keberlanjutan kegiatan perusahaan dalam jangka panjang.

“Kami percaya bahwa hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang berdaya dan mandiri serta lingkungan yang lestari akan mendukung keberlanjutan produksi migas Perusahaan untuk puluhan tahun yang akan datang. Karena itu, menjaga lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penerapan prinsip dan strategi keberlanjutan atau sustainability perusahaan,” ujarnya.

Manager Environment PHI, Kemas Adrian, menjelaskan bahwa rehabilitasi orang utan membutuhkan waktu dan dilakukan melalui sejumlah tahapan. Satwa harus kembali menguasai kemampuan dasar untuk bertahan hidup sebelum dinyatakan siap dilepasliarkan.

Kemampuan tersebut antara lain mengenali sumber pakan, mengeksplorasi lingkungan, memanjat pohon, hingga membuat sarang.

“Rehabilitasi orang utan tidak dapat dipisahkan dari upaya memulihkan dan menjaga habitatnya. Karena itu, dukungan kami tidak hanya berfokus pada kebutuhan individu selama proses rehabilitasi, tetapi juga pada penguatan ekosistem melalui pemulihan vegetasi dan pengelolaan habitat secara berkelanjutan,” ujar Kemas.

Proses tersebut terlihat pada perkembangan sejumlah orang utan yang saat ini menjalani rehabilitasi. Di Samboja Lestari, Anggoro, orang utan jantan berusia 11 tahun, terus mengembangkan kemampuan bertahan hidup melalui aktivitas di kompleks sosialisasi.

Sementara di Nyaru Menteng, Bumi, orang utan jantan berusia 9 tahun, telah berada di Pulau Pra-Pelepasliaran setelah sebelumnya menjalani pembelajaran di Sekolah Hutan.

Perkembangan kemampuan juga ditunjukkan Monita, orang utan betina berusia 7 tahun. Ia semakin terampil mengeksplorasi pepohonan, mencari buah, dan membuat sarang.

Ecky, orang utan betina berusia 10 tahun, telah mampu mengenali dan mengonsumsi sekitar 50 jenis pakan alami serta membuat sarang sendiri. Adapun Otan dan Feruza, masing-masing berusia 5 tahun, terus mengembangkan kemampuan memanjat, mengenali pakan alami, dan membangun sarang di Sekolah Hutan Samboja Lestari.

Kemas menuturkan, pemulihan habitat dibutuhkan agar orang utan yang nantinya dinyatakan siap kembali ke alam memiliki lingkungan yang mampu menunjang kehidupannya.

“Ketika orang utan siap kembali ke habitat alaminya, lingkungan yang sehat dan mampu menyediakan sumber pakan serta ruang hidup menjadi bagian penting dari keberhasilan proses tersebut,” katanya.

Komitmen terhadap pemulihan lingkungan juga dilakukan PHI melalui penanaman vegetasi di sekitar wilayah operasi hulu migas di Kalimantan. Dalam lima tahun terakhir, perusahaan telah melakukan penanaman lebih dari 600 ribu pohon, termasuk jenis endemik Kalimantan dan pohon buah-buahan.

Upaya tersebut ditujukan untuk mendukung konservasi flora dan fauna sekaligus membantu pengurangan emisi karbon.

PHI menyatakan upaya konservasi dilakukan melalui kolaborasi dengan lembaga konservasi, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk menjalankan operasi hulu migas yang selamat, andal, serta memenuhi ketentuan di bidang lingkungan.

“Kami percaya pentingnya komitmen dan tindakan nyata bersama untuk memastikan kegiatan operasi hulu migas berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan dan keberlanjutan ekosistem bagi generasi mendatang,” pungkas Kemas. (*).

43

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *