Bukan Sekedar Nasionalisme, 320 Kader Bela Negara Disiapkan Jadi Garda Terdepan Lawan Hoaks
FOTO: Kasdam VI Mulawarman, Brigjen TNI Andy Setyawan sematkan PIN Bela Negara kepada perwakilan peserta (05/11/2026), Ries.
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Kementerian Pertahanan Republik Indonesia mendorong 320 peserta Pelatihan Kader Bela Negara Tingkat Pratama Tahun 2026 menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Para kader diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai nasionalisme, memperkuat persatuan dan kesatuan, serta menangkal penyebaran hoaks dan disinformasi di tengah masyarakat.
Dorongan tersebut disampaikan Brigjen TNI Luhut Marpaung dari Kementerian Pertahanan RI saat penutupan Pelatihan Kader Bela Negara yang berlangsung selama tiga hari di Rindam VI/Mulawarman, Kalimantan Timur, Kamis (5/11/2026).
Pelatihan ini diikuti sebanyak 320 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan hingga komunitas. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya Kementerian Pertahanan dalam memperluas pemahaman sekaligus mendorong implementasi nilai-nilai dasar bela negara di tengah masyarakat.
Luhut mengatakan, pembentukan kader bela negara tidak semata-mata bertujuan membangun kemampuan pertahanan secara fisik. Lebih dari itu, pelatihan ini diarahkan untuk memperkuat karakter, integritas, serta kesadaran masyarakat dalam mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.
Menurutnya, semangat bela negara harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Setiap peserta diharapkan mampu menjalankan peran dan tanggung jawabnya sesuai profesi masing-masing tanpa harus menjadi bagian dari institusi militer.
“Harapannya mereka menjadi duta di lingkungan masyarakat masing-masing. Mengabdi melalui profesinya, tidak harus menjadi tentara. Melalui profesi yang ada sekarang, mereka bisa menjadi duta bela negara,” ujar Luhut.
Selain memperkuat nasionalisme, Luhut juga menyoroti tantangan kebangsaan di era digital, khususnya maraknya penyebaran berita bohong atau hoaks dan disinformasi yang berpotensi memicu perpecahan di tengah masyarakat.
Ia mengingatkan para kader agar lebih bijak dalam menerima maupun menyebarkan informasi. Para peserta diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi dengan menyampaikan informasi yang benar, edukatif, serta mampu menciptakan suasana kondusif.
“Kita sekarang ini berperang dengan hoaks dan disinformasi. Jangan menjadi bagian dari penyebar hoaks, tetapi justru memberikan kesejukan, melawan hoaks dan disinformasi,” tegasnya.
Luhut menambahkan, penyematan pin kader bela negara bukan sekadar simbol keikutsertaan dalam pelatihan, melainkan menjadi penanda tanggung jawab moral untuk menerapkan nilai-nilai bela negara dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia menjelaskan, tidak ada sanksi hukum khusus apabila pin tersebut disalahgunakan. Namun, setiap kader diharapkan tetap menjaga integritas dan tanggung jawab sebagai representasi semangat bela negara di lingkungannya.
Sementara itu, salah seorang peserta, Mega Ardianty Rakmani, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman selama mengikuti pelatihan yang berlangsung selama tiga hari tersebut.
Menurut Mega, berbagai materi yang diberikan menjadi bekal penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air dan menyosialisasikan semangat nasionalisme kepada masyarakat.
“Ilmu dan wawasan yang didapat selama tiga hari ini tentu akan diterapkan, terutama untuk bangsa Indonesia sendiri dan mengajak masyarakat agar tetap mencintai tanah air,” tuturnya.
Ia menilai, meskipun berlangsung dalam waktu relatif singkat, pelatihan tersebut memberikan pengalaman berharga. Selain mendapatkan wawasan kebangsaan, para peserta juga berkesempatan membangun hubungan dengan kader dari berbagai daerah dan latar belakang.
Mega berharap komunikasi dan silaturahmi antarkader tetap terjalin meskipun kegiatan telah berakhir. Dengan demikian, semangat bela negara tidak hanya menjadi materi selama pelatihan, tetapi dapat terus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan bermasyarakat, pungkasnya.
Penulis: Ries
Editor: Alfa
39
