FOTO: Sapi Berbobot 1 ton terjual cepat, harga capai Rp100 Juta/ doc/ Ries

BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 2026 berdampak langsung pada harga jual hewan kurban di sejumlah daerah, termasuk di Balikpapan, Kalimantan Timur. Para peternak mengaku biaya operasional yang meningkat, khususnya untuk transportasi, turut mendorong kenaikan harga ternak.

Peternak sapi di Balikpapan, Muhammad Abduh, mengatakan kenaikan harga BBM berimbas pada ongkos distribusi hewan ternak dari luar daerah. “Biaya ekspedisi naik karena harga solar juga naik. Jadi semua serba ikut naik,” ujarnya saat ditemui di peternakannya, Jumat (1/5/2026).

Abduh menjelaskan, tahun ini ia menyediakan berbagai jenis hewan kurban, mulai dari sapi, kambing, hingga domba. Menurutnya, ada peningkatan variasi jenis hewan, terutama domba, karena tingginya minat masyarakat.

“Tahun-tahun sebelumnya kami belum pernah mendatangkan domba, tapi tahun ini kami datangkan karena animo masyarakat cukup tinggi,” katanya.

Untuk sapi, Abduh menyediakan berbagai jenis, seperti limosin, simental, brahman, hingga sapi lokal Bali. Bobot sapi yang dijual bervariasi, mulai dari 300 kilogram hingga mencapai 1 ton. Sapi dengan bobot terbesar tersebut bahkan telah terjual dengan harga mencapai Rp100 juta.

Sementara itu, harga domba juga bervariasi tergantung jenisnya. Domba jenis texel, misalnya, dijual mulai dari Rp4 juta per ekor. Adapun domba jenis dorper yang dikenal sebagai pedaging memiliki harga lebih tinggi, namun stoknya telah habis terjual.

Menurut Abduh, sebagian besar hewan ternak, khususnya kambing dan domba, didatangkan dari Pulau Jawa, termasuk Jawa Tengah, yang dikenal sebagai salah satu sentra pengembangan ternak.

Kenaikan harga tahun ini, lanjutnya, cukup terasa dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk sapi lokal, misalnya, harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp22 juta hingga Rp23 juta, kini naik menjadi sekitar Rp25 juta per ekor. “Kenaikannya sekitar 3 sampai 5 persen,” jelasnya.

Meski harga mengalami kenaikan, Abduh memastikan minat masyarakat untuk berkurban tidak mengalami penurunan signifikan. Ia menyebut pelanggan setianya masih mempercayakan pembelian hewan kurban di tempatnya.

Selain itu, ia juga memastikan kondisi kesehatan hewan ternak tetap terjaga. Menurutnya, kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kalimantan Timur kini hampir tidak ditemukan, berkat program vaksinasi dari pemerintah.

“Hewan di sini sudah divaksin, bahkan ada yang sampai tiga kali. Jadi relatif aman,” katanya.

Untuk menarik minat pembeli, Bang Kumis Farm juga menawarkan layanan “terima beres”, mulai dari penyembelihan hingga pengemasan daging sesuai permintaan konsumen. Ia optimistis penjualan hewan kurban tahun ini tetap berjalan baik hingga mendekati Hari Raya Iduladha.

Penulis: Ries

Editor: Alfa

49

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.