Dari TPS Bayangan Menjadi Kampung Berseri, Perjalanan Abdul Rahman Wujudkan Lingkungan Bersih di Sepinggan
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Perubahan besar terjadi di Kelurahan Sepinggan, Balikpapan Selatan berkat kepedulian seorang warga bernama Abdul Rahman. Koordinator Kampung Berseri Astra (KBA) Sepinggan itu menceritakan bahwa perjalanan menuju lingkungan bersih dimulai sejak ia pindah ke kawasan tersebut pada 2007.
“Saat itu, area yang kini menjadi kampung asri tersebut merupakan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) bayangan,” ucap Abdul Rahman, Selasa (18/11/2025).
Melihat kondisi tersebut, Abdul Rahman tergerak untuk membersihkan lokasi dan menanaminya dengan berbagai jenis tanaman.
Pada 2010, ia diajak bergabung dengan bank sampah di Gunung Bahagia (Wijaya Kusuma). Dua tahun kemudian, pada 2012, ia mendirikan bank sampah sendiri di lingkungan Sepinggan.
“Kegiatan kami terus berkembang hingga kami diikutsertakan dalam program Kampung Iklim (Proklim). Alhamdulillah, pada 2021 kami lolos kategori Utama dan meraih tropi,” ujarnya.
Perjalanan tidak berhenti di situ. Dirinya kemudian mendaftarkan lingkungan mereka dalam program Kampung Berseri Astra (KBA). Butuh tiga kali pendaftaran hingga akhirnya lolos pada tahun 2021.
Melalui program KBA, berbagai fasilitas disalurkan kepada warga melalui empat pilar yakni Pendidikan berupa beasiswa untuk anak-anak, Kesehatan berupa bantuan bagi Posyandu, lalu Lingkungan dalam pembentukan bank sampah di RT 54, serta Kewirausahaan/Tanggap Darurat untuk bantuan bagi warga RT 1
“Peran kami adalah menjembatani fasilitas dari Astra agar diterima oleh warga yang benar-benar membutuhkan,” jelasnya.
Bank sampah yang ia kelola berfokus pada pengumpulan sampah anorganik bernilai ekonomis, seperti botol, buku, dan plastik.
“Kami menerima 32 jenis sampah plastik, termasuk tali rafia, karung, dan kantong kresek,” katanya.
Sampah yang terkumpul tidak diekspor, melainkan diserahkan kepada pengepul karena keterbatasan tempat penyimpanan. Tujuan utama dibentuknya bank sampah adalah menciptakan lingkungan bersih dan mengurangi pencemaran plastik.
Pihaknya mulai fokus penuh mengelola bank sampah sejak 2016. Ia mengakui bahwa pada awalnya nilai ekonomis sampah sangat kecil, plastik hanya dihargai sekitar Rp500 per kilogram, sementara kantong kresek tidak memiliki nilai jual.
“Fokus saya bukan pada rupiahnya, tapi membersihkan lingkungan yang saat itu jadi TPS bayangan. Saya ingin masyarakat berhenti membuang dan membakar sampah sembarangan,” ungkapnya.
Upaya itu akhirnya mendapat dukungan warga. Kondisi lingkungan yang semakin bersih mendorong mereka ikut dalam Program Kampung Iklim (Proklim) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Program Proklim ini mencakup satu kawasan Kelurahan Sepinggan dan melibatkan 70 RT. Dirinya dipercaya menjadi koordinator untuk memberikan edukasi kepada seluruh RT.
“Kami kumpulkan mereka di kantor kelurahan, difasilitasi Pak Lurah, untuk sosialisasi program,” tambahnya.
Motivasi warga seragam menciptakan lingkungan yang asri, bersih, dan bebas sampah. Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil pada tahun 2021, saat Kampung Iklim Sepinggan berhasil meraih Tropi Utama Proklim dari kementerian.
Kini, perubahan lingkungan di Sepinggan menjadi contoh nyata bagaimana kepedulian satu orang dapat menggerakkan seluruh warga menuju kehidupan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Penulis: Ar
Editor: Alfa
379
