Nadifa Bakery Bertahan dan Berkembang Sejak 2010, Pesanan Kue Kering Meningkat Jelang Lebaran

BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Usaha rumahan Nadifa Bakery terus menunjukkan perkembangan sejak pertama kali dirintis pada 2010. Bisnis bakery yang dijalankan oleh seorang ibu rumah tangga ini kini mampu memproduksi ribuan toples kue kering setiap tahun, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.

Pemilik Nadifa Bakery Eni Purwati mengungkapkan bahwa usaha tersebut sebenarnya sudah mulai dirintis sejak 2008. Namun saat itu ia masih bekerja sebagai karyawan sehingga belum dapat fokus sepenuhnya mengembangkan bisnis kue.

“Awalnya sebenarnya sudah mulai sekitar 2008, tapi waktu itu saya masih bekerja sebagai karyawan jadi belum terlalu fokus. Baru sekitar 2010 usaha ini benar-benar mulai dijalankan,” ujarnya.

Pada masa awal berdiri, produksi kue masih dalam skala kecil dengan jumlah pesanan yang terbatas. Ia bersama suaminya menjalankan usaha tersebut secara sederhana dari rumah dengan mengandalkan pesanan dari lingkungan sekitar, seperti sekolah maupun kenalan.

“Dulu pesanan masih sedikit, hanya dari orang-orang sekitar saja. Kami kerjakan sendiri bersama suami,” kata Eni.

Seiring berjalannya waktu, Nadifa Bakery mulai berkembang. Jumlah pesanan meningkat dan usaha tersebut perlahan menambah tenaga kerja untuk membantu proses produksi. Saat ini, jumlah karyawan telah bertambah hingga empat orang.

Menariknya, masa pandemi COVID-19 justru menjadi titik pertumbuhan bagi usaha ini. Saat banyak sektor usaha mengalami penurunan, Nadifa Bakery justru menerima lonjakan pesanan, terutama untuk pengiriman makanan ke rumah sakit dan keluarga pasien.

“Waktu COVID malah pesanan meningkat. Banyak yang kirim makanan atau kue ke rumah sakit, jadi dari situ kami menambah karyawan karena permintaan cukup banyak,” jelasnya.

Menjelang Ramadan dan Idulfitri setiap tahun, produksi kue kering menjadi fokus utama Nadifa Bakery. Untuk tahun ini, pemilik usaha menargetkan produksi minimal sekitar 5.000 toples kue kering.

“Tiap tahun minimal target kami sekitar 5.000 toples. Tahun lalu bahkan mencapai sekitar 7.000 toples dari berbagai jenis kue,” katanya.

Dari berbagai varian yang diproduksi, kue nastar menjadi produk paling diminati pelanggan. Nadifa Bakery menyediakan beberapa jenis nastar, namun nastar original menjadi best seller.

“Nastar paling laris, terutama yang original. Itu yang paling banyak dicari pelanggan,” ujarnya.

Pemesanan kue kering biasanya sudah dibuka dua bulan sebelum Ramadan melalui sistem pre-order (PO). Meski demikian, penjualan tetap dilakukan selama stok masih tersedia.

“Biasanya orang mulai pesan dua bulan sebelum puasa. Ada juga yang beli untuk coba dulu, kalau cocok baru pesan lebih banyak,” katanya.

Lonjakan pesanan biasanya mulai terasa sekitar satu minggu sebelum Ramadan dan mencapai puncaknya pada minggu terakhir menjelang Idulfitri. Pada periode tersebut, hampir seluruh produksi terjual habis.

Nadifa Bakery juga menyediakan paket kue dengan harga bervariasi untuk memudahkan pelanggan memilih. Paket tersebut menjadi pilihan favorit karena lebih praktis dan ekonomis.

Dengan konsistensi menjaga kualitas rasa dan pelayanan, Nadifa Bakery optimistis dapat terus bertahan dan berkembang di tengah persaingan usaha kuliner yang semakin ketat.

Penulis: Ries

Editor: Alfa

241

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.