Pasar Blauran Klandasan Sepi Jelang Tahun Ajaran Baru, Pedagang Seragam Mengaku Omzet Turun hingga 50 Persen

BALIKPAPAN, Metrokaltim,com – Memasuki tahun ajaran baru, suasana di Pasar Blauran Klandasan, Kota Balikpapan, yang biasanya dipadati orang tua untuk membeli seragam sekolah, tahun ini terlihat lebih lengang. Kondisi tersebut berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya ketika permintaan seragam sekolah meningkat tajam menjelang hari pertama masuk sekolah.

Sejumlah pedagang mengaku penjualan seragam sekolah mengalami penurunan sejak pemerintah memberikan program pembagian seragam gratis bagi siswa. Program tersebut tidak hanya diterapkan oleh Pemerintah Kota Balikpapan untuk jenjang SD dan SMP, tetapi juga diperluas oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk siswa SMA.

Salah seorang pedagang seragam sekolah di Pasar Blauran Klandasan, Helmi, mengatakan hingga saat ini pembeli memang belum ramai. Menurutnya, biasanya lonjakan pengunjung baru terjadi dua hingga tiga hari sebelum sekolah dimulai, namun kondisi tahun ini diperkirakan tidak akan seramai sebelumnya.

“Belum ramai. Biasanya dua sampai tiga hari sebelum masuk sekolah baru agak ramai. Tapi sekarang kelihatan memang menurun. Biasanya sudah meledak pembelinya, sekarang belum ada, hanya sedikit-sedikit saja yang beli,” ujar Helmi.

Ia mengakui program seragam gratis memberikan dampak cukup besar terhadap penjualan para pedagang. Bahkan, omzet yang diperoleh menurun hingga sekitar 50 persen dibandingkan sebelum program tersebut diberlakukan.

“Ngaruh. Penjualannya turun sekitar 50 persen. Sekarang SMA juga sudah dapat seragam gratis, jadi omzet semakin berkurang. Kalau ada yang beli biasanya cuma satu stel saja, yang benar-benar diperlukan, karena seragam utama sudah disiapkan pemerintah,” katanya.

Meski demikian, Helmi tetap berharap pemerintah dapat melibatkan pedagang lokal dalam penyediaan seragam sekolah. Menurutnya, langkah tersebut dapat membantu menjaga roda perekonomian para pelaku usaha kecil tanpa mengurangi manfaat program seragam gratis bagi masyarakat.

“Kalau bisa pedagang lokal juga dilibatkan untuk menyiapkan seragam. Jangan semuanya didatangkan dari luar. Mudah-mudahan pemerintah bisa memberi kesempatan kepada pedagang di sini,” harapnya.

Untuk harga seragam sekolah, Helmi menjelaskan satu pasang seragam SD dijual mulai Rp150 ribu. Sementara seragam SMP dibanderol sekitar Rp180 ribu, sedangkan seragam SMA dijual seharga Rp200 ribu per pasang.

Di sisi lain, masih ada masyarakat yang memilih membeli seragam di Pasar Blauran Klandasan. Salah seorang pembeli, Via, mengatakan dirinya tetap berbelanja untuk memenuhi kebutuhan anak yang akan kembali bersekolah.

“Iya, beli seragam untuk anak sekolah dan untuk TPA. Saya pilih belanja di Klandasan karena lebih murah dan pilihannya lebih banyak,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Dini, pembeli lainnya, yang mengaku tetap membeli seragam sekolah setiap tahun meski pemerintah telah membagikan seragam gratis. Menurutnya, kualitas bahan dan ukuran seragam yang dijual di pasar lebih sesuai dengan kebutuhan anaknya.

“Saya tetap beli setiap tahun karena bahannya lebih cocok dan ukurannya juga pas untuk anak,” kata Dini.

Meski jumlah pembeli menurun, para pedagang berharap masih ada peningkatan transaksi menjelang hari pertama sekolah. Mereka juga berharap kebijakan pemerintah ke depan dapat memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk ikut berpartisipasi dalam pengadaan seragam sekolah, sehingga manfaat program pendidikan gratis dapat berjalan beriringan dengan keberlangsungan usaha masyarakat kecil.

Penulis: Ries

Editor: Alfa

30

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *