Sumber Rejo Segera Launching Program Baru, Penanaman Umbi Porang

Balikpapan, Metrokaltim.com – Selain terkenal sebagai kebun kangkung, Kelurahan Sumber Rejo, Balikpapan Tengah (Balteng) juga berencana akan launching perdana penanaman Umbi Porang di akhir bulan Juni 2021. Dan rencananya akan dijadikan sebagai program icon Sumber Rejo selain kangkung.

Karena kelurahan, LPM, PKK dan elemen masyarakat ingin Sumber Rejo memiliki icon selain kangkung yakni umbi porang. Bahkan Jumat (4/6) lalu, Lurah Sumber Rejo dan Camat Balteng beserta kepala dinas pangan pertanian dan perikanan (DP3) didampingi timnya, sudah mengecek lokasi.

Mengapa ingin dilakukan penanaman tersebut, karena salah satu warga Sumber Rejo sudah memiliki alat pengolahan chipnya, namun untuk bahannya sendiri masih kekurangan.

“Apalagi dalam sehari alat tersebut mampu menampung kapasitas sebanyak 1,6 ton, hanya saja Balikpapan masih kekurangan bahan baku Umbi Porang,” ucap Lurah Sumber Rejo Umar Adi saat ditemui awak media Jumat malam.

Sementara untuk penanaman umbi porang ini tidak harus memiliki lahan yang luas, karena selain bisa ditanam di tanah juga bisa ditanam di polyback atau di karung. Banyak manfaat yang bisa digunakan dari bahan umbi porang sendiri, antaranya bahan baku lem, bahan kosmetik hingga bisa dijadikan mie udon (mie Jepang). Tetapi yang ada di Sumber Rejo ini hanya produksi Industri berupa chip yang akan di ekspor ke luar daerah.

“Dengan kebutuhan itu targetnya per hari minimal 1 ton. Dan harapan kami setiap RT minimal ada 30-40 rumah yang berkenan nanam dan minimal satu rumah itu 5 sampai 10 karung atau pakai polyback,” ujar Umar Adi.

Sedangkan untuk pelatihan maupun bibit, warga tersebut sudah menyiapkan bibitnya dengan harga Rp 100-200 per kilogram dan ketika sudah berhasil tidak harus lagi membeli bibit, karena itu bisa untuk bibit sendiri. Untuk masa pertumbuhan kurang lebih 6-7 bulan, namun untuk umbinya sekitar 1,5 tahun baru bisa di panen.

“Kalau harga umbinya sendiri per kilo bisa mencapai harga Rp 6.500-7.500/kilo,” akunya.

Dari evaluasi DP3 sudah membentuk LKMA, karena ada lembaga khusus yang menangani, serta kelurahan juga akan membentuk kelompok masyarakat tertentu untuk mengelola itu. Hal ini untuk menjaga kestabilan harga dan ketersediaan bahan.

Jadi untuk sekarang ini, ia masih harus mengambil bahan baku dari Kalimantan Selatan (Kalsel). Nah ini sebagai bentuk keseriusan pemilik usaha yang bekerja sama dengan kelurahan, LPM, RT dan warga, serta didukung oleh kecamatan dan DP3.

(Mys/riyan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *