Warga Baru Ilir Dilatih Hadapi Kebakaran, Kesiapsiagaan Dimulai dari Lingkungan

BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Kesiapsiagaan menghadapi kebakaran tidak hanya bergantung pada kecepatan petugas saat tiba di lokasi. Kemampuan masyarakat mengenali kondisi darurat, menyampaikan informasi, mengevakuasi diri, hingga membantu warga yang membutuhkan pertolongan menjadi bagian penting dalam memperkecil risiko ketika bencana terjadi.

Hal tersebut menjadi fokus dalam simulasi evakuasi kebakaran yang melibatkan masyarakat di kawasan RT 49, RT 50, RT 51, RT 52, dan RT 54 Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat.

Melalui kegiatan tersebut, warga mendapatkan pengalaman langsung menghadapi skenario kedaruratan di lingkungan permukiman. Masyarakat dilatih untuk tidak hanya mengetahui prosedur keselamatan, tetapi juga mampu mengambil tindakan awal secara tepat ketika menghadapi kebakaran.

Simulasi melibatkan kelompok mitra binaan Kampung Tangguh Bencana (KATANA) Kelurahan Baru Ilir bersama PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Refinery Unit Balikpapan. Kegiatan juga didukung Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan, Kecamatan Balikpapan Barat, Kelurahan Baru Ilir, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta tim internal HSSE RU Balikpapan.

Dalam latihan tersebut, warga diarahkan mengenali situasi darurat, menyampaikan informasi kejadian, kemudian melakukan evakuasi menuju titik aman. Perhatian juga diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak dan lanjut usia, yang membutuhkan bantuan lebih saat proses penyelamatan.

Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu aspek utama dalam simulasi. Dengan menggunakan skenario yang mendekati situasi kedaruratan, warga dapat mempraktikkan pembagian peran sekaligus menguji kemampuan berkoordinasi dengan unsur penanggulangan bencana.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Unit Balikpapan, Dodi Yapsenang, mengatakan penguatan kapasitas masyarakat merupakan bagian dari Program KALIANDRA (Kampung Baru Ilir Mandiri, Indah, dan Sejahtera).

Menurut dia, masyarakat merupakan unsur yang berada paling dekat dengan lokasi ketika suatu kejadian darurat berlangsung. Karena itu, pengetahuan dan kemampuan warga menjadi faktor penting dalam penanganan awal.

“Penanggulangan bencana membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, termasuk masyarakat sebagai pihak yang berada paling dekat dengan potensi kejadian. Melalui latihan seperti ini, kami berharap warga memahami peran masing-masing, mengetahui langkah awal yang perlu dilakukan, serta mampu berkoordinasi dengan baik ketika menghadapi kondisi darurat,” ujar Dodi.

Selain meningkatkan kemampuan individu, simulasi juga menjadi momentum untuk menguji koordinasi antarunsur di tingkat lingkungan. Kerja sama masyarakat, KATANA, pemerintah kelurahan dan kecamatan, BPBD, Babinsa, serta Bhabinkamtibmas menjadi bagian dari upaya membangun respons awal yang lebih terorganisasi.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Balikpapan, Bambang, menilai latihan secara berkala diperlukan agar masyarakat semakin terbiasa menghadapi kondisi darurat tanpa kepanikan.

“Melalui simulasi ini, warga belajar untuk tidak panik ketika menghadapi kebakaran. Masyarakat perlu mengetahui bagaimana menyampaikan informasi kejadian, mengevakuasi diri dan keluarga menuju lokasi aman, serta membantu anak-anak, lansia, dan warga lain yang membutuhkan pertolongan. Latihan seperti ini penting dilakukan secara berkala agar masyarakat semakin memahami langkah yang harus dilakukan dalam kondisi darurat,” jelas Bambang.

Ketua KATANA Kelurahan Baru Ilir, Sugianto, mengatakan simulasi memberikan kesempatan kepada warga untuk mengubah pengetahuan mengenai kebencanaan menjadi keterampilan yang dapat diterapkan.

“Selama ini masyarakat mengetahui bahaya kebakaran, tetapi belum tentu semua memahami apa yang harus dilakukan ketika kejadian benar-benar terjadi. Melalui simulasi ini, warga dapat belajar bagaimana melakukan evakuasi, membantu tetangga, dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Kami berharap latihan seperti ini dapat terus dilakukan agar kesiapan masyarakat semakin baik,” ungkap Sugianto.

Penguatan KATANA tersebut merupakan bagian dari implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga Unit Balikpapan yang diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat berbasis komunitas.

Keberadaan kelompok masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan penanganan bencana dinilai dapat menjadi kekuatan dalam upaya mitigasi dan respons awal, khususnya di kawasan permukiman yang memiliki potensi risiko kebakaran.

Program ini sekaligus mendukung penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), terutama melalui peningkatan ketangguhan masyarakat dan penguatan kolaborasi dengan para pemangku kepentingan.

Upaya tersebut juga berkaitan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Ke depan, latihan kebencanaan diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Kesiapsiagaan perlu menjadi kebiasaan warga, mulai dari mengenali potensi bahaya di lingkungan, menjaga komunikasi antarwarga, mengetahui jalur evakuasi, hingga memastikan kelompok rentan memperoleh bantuan ketika keadaan darurat terjadi.

Keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk perempuan dan ibu-ibu yang memiliki peran penting dalam keluarga, juga diharapkan semakin memperkuat budaya keselamatan dan ketangguhan warga Kelurahan Baru Ilir dalam menghadapi potensi kebakaran.

70

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *