18 Adegan Penganiayaan Anak Hingga Tewas, Berlangsung di Unit PPA Polres Kutim

Kutai Timur, Metrokaltim.com – Rekontruksi kasus penganiayan hingga menyebabkan kematian terhadap anak yang beberapa waktu lalu yang terjadi di Kecamatan Kaliorang Kabupaten Kutai Timur (Kutim), pada Senin (23/3).

Rekontruksi yang digelar di Mako Polres Kutim, tepatnya di ruangan unit perlindungan perempuan dan anak (PPA) ini berlangsung sebanyak 18 adegan yang dilakukan tersangka serta sejumlah saksi, termasuk suami tersangka yang merupakan ayah angkat korban (om korban sendiri) dan beberapa peran pengganti saksi. Rasa penyesalan terlihat jelas di wajah tersangka VH hingga meneteskan air mata yang juga merupakan angkat korban, di saat melakukan rekontruksi dari awal sampai akhir adegan.

Aipda Maslan saat menjelaskan tentang kasus penganiayaan anak hingga tewas usai menggelar rekontruksi.

Dalam keterangannya usai melakukan rekontruksi Aipda Maslan Setya Budi menjelaskan kembali saat kejadian pada Rabu (19/2), di mana tersangka VH merupakan ibu angkat korban. Saat itu Baharuddin suaminya tersangka baru pulang kerja sekira pukul 17.30 Wita. Dia terkejut mendapati anaknya, Putri Riskiana tidak sadarkan diri berada di dalam kamar dalam kondisi terbaring di kasur.

“Baharuddin meminta tolong tetangganya untuk membawa anaknya ke Puskesmas Kaliorang. Setiba di puskesmas, usai menjalani pemeriksaan medis putri angkatnya dinyatakan sudah meninggal dunia. Korban meninggal dunia akibat luka benturan keras di kepala pada bagian belakang,” ungkap Maslan.

Mengetahui peristiwa naas yang menimpa korban berinisial P (8), Baharuddin kemudian memastikan dengan melihat terdapat luka memar pada bagian mata kiri dan kanan korban. Lalu dia menuju ke rumah untuk mencari tahu ke para tetangganya.

Atas kejadian tersebut seketika itu juga sang ayah angkatnya, Baharuddin melapor ke pihak Polsek Kaliurang di saat itu korban sudah dinyatakan meninggal oleh tim medis Puskesmas Kaliorang.

“Tersangka penganiayaan anak ini melanggar Pasal 76 C UU nomor 35 tahun 2014 yang berbunyi setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasa terhadap anak,” bebernya.

Akibat perbuatannya kini hari-hari VH harus dihabiskan di balik sel jeruji besi, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

(rina/riyan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *