Tokoh Masyarakat Kalimantan Suriansyah “Prof” Wafat, Tinggalkan Jejak Pengabdian bagi Daerah
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Tokoh masyarakat Kalimantan, Suriansyah yang akrab disapa Prof, meninggal dunia pada Selasa, 30 Juni 2026. Kepergian pendiri Gerakan Putera Asli Kalimantan (GEPAK) atau yang dikenal masyarakat sebagai GEPAK Kuning itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, rekan seperjuangan, dan masyarakat Kalimantan yang mengenal dedikasi serta pengabdiannya.
Suriansyah merupakan putra asli Kalimantan berdarah Banjar yang dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat. Semasa hidupnya, ia aktif memperjuangkan aspirasi masyarakat serta konsisten mengawal berbagai isu pembangunan di Kalimantan, termasuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Sekretaris GEPAK Kuning Kaltim Kaltara Muhammad Lutfi menjelaskan, Perjalanan organisasinya dimulai saat dipercaya memimpin Pengurus Anak Cabang Kecamatan Balikpapan Selatan Gerakan Pemuda Asli Kalimantan (GEPAK Hijau). Saat itu, wilayah Balikpapan Selatan masih mencakup kawasan yang kini menjadi Kecamatan Balikpapan Kota. Dalam kepemimpinannya, ia dikenal mampu membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.
Namun, dinamika organisasi yang terjadi di tingkat kepengurusan provinsi membuat Suriansyah memilih mengundurkan diri pada 2018. Bersama para loyalisnya, ia kemudian mendirikan Gerakan Putera Asli Kalimantan (GEPAK) yang berkembang menjadi organisasi kemasyarakatan yang aktif menyuarakan kepentingan masyarakat Kalimantan.
“Saya ingin organisasi ini tetap menjadi wadah perjuangan masyarakat Kalimantan dan hadir untuk membela kepentingan rakyat,” demikian komitmen yang kerap disampaikan almarhum kepada rekan-rekan seperjuangan, ucapnya.
Selain aktif di organisasi, Suriansyah juga pernah mengemban amanah sebagai Ketua RT 21 Kelurahan Damai Baru, Kota Balikpapan. Warga mengenalnya sebagai pemimpin lingkungan yang terbuka, mudah ditemui, dan selalu berusaha memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat.
Dalam berbagai kesempatan, almarhum juga dikenal vokal mengkritisi kebijakan publik yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat. Baginya, kritik merupakan bentuk tanggung jawab moral agar kebijakan pemerintah memberikan manfaat yang lebih luas bagi rakyat.
Lanjut Lutfi, sejak pembangunan IKN dimulai pada 2022, Suriansyah aktif mengikuti berbagai kegiatan dan menyampaikan pandangannya agar pembangunan tersebut tetap memperhatikan hak serta kesejahteraan masyarakat lokal di Kalimantan.
Kondisi kesehatannya mulai menurun sejak November 2025 akibat penyakit yang dideritanya. Meski demikian, semangatnya untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat tidak pernah surut hingga akhir hayat.
Almarhum meninggalkan seorang istri, dua putri, dan dua cucu. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi masyarakat yang mengenalnya sebagai sosok sederhana, rendah hati, serta berani menyuarakan kepentingan rakyat. Warisan pengabdian dan semangat perjuangannya diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam membangun Kalimantan yang lebih maju dan berkeadilan, Tutup Lutfi.
Penulis: Ries
Editor: Alfa
65
