Terungkap! Begini Aktivitas 651 Peserta SPPI di Rindam VI/Mulawarman, Mayoritas Belajar Manajerial di Kelas

BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Sebanyak 651 peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) mengikuti proses belajar mengajar di lingkungan Dodikjur Rindam VI/Mulawarman. Seluruh peserta mendapatkan materi manajerial sebagai bekal dalam menjalankan tugas sebagai kader manajer di lapangan. Kegiatan pembelajaran berlangsung secara terstruktur dengan porsi utama berada di dalam kelas, disertai pembinaan karakter, kepemimpinan, serta pembinaan keagamaan.

Dandodikjur Rindam VI/Mulawarman, Letkol Inf Ruhin, menjelaskan bahwa setiap hari diawali dengan apel pagi untuk memastikan kesiapan seluruh peserta sebelum mengikuti kegiatan belajar.

“Laksanakan kegiatan apel pengecekan. Di situ ada doa, kemudian pengarahan-pengarahan apa yang dikerjakan hari ini. Setelah melaksanakan apel pagi, dilanjutkan proses belajar mengajar. Dari lapangan hitam menuju kelas yang sudah disiapkan berjalan kaki kurang lebih 300 meter. Itu juga dalam rangka pembinaan jasmani secara ringan agar tetap sehat dan prima,” ujarnya, ( 03/7).

Ia mengatakan, setelah kegiatan belajar mengajar, peserta menjalani waktu istirahat, salat, dan makan (isoma). Peserta beragama Islam melaksanakan ibadah di masjid, sedangkan peserta beragama Katolik dan Protestan difasilitasi tempat ibadah yang telah disiapkan di area hunian.

“Setelah salat Maghrib, peserta yang beragama Islam mengikuti pembinaan religi hingga waktu Isya. Setelah itu dilaksanakan apel malam sebelum seluruh peserta kembali ke enam barak yang telah dilengkapi tempat tidur dan fasilitas kamar mandi yang representatif,” katanya.

Menurut Ruhin, proses pembelajaran berlangsung selama enam jam pelajaran setiap hari, dengan durasi masing-masing 45 menit. Seusai kegiatan di kelas, peserta mengikuti pembinaan pengasuhan berupa olahraga umum, pembelajaran seni tari, serta berbagai aktivitas yang bertujuan mengembangkan keterampilan dan kepemimpinan.

Selain itu, pihak penyelenggara juga menyiapkan layanan kesehatan selama 24 jam. Peserta yang mengalami keluhan kesehatan akan diperiksa di klinik. Apabila membutuhkan penanganan lanjutan, peserta akan dirujuk ke Rumah Sakit Tentara Harjanto Balikpapan.

Ruhin menegaskan, kegiatan fisik yang diterapkan bersifat ringan dan tidak berlebihan.

“Fisiknya itu fisik ringan, yaitu apel pagi, senam, jalan kaki dari kelas ke barak maupun ke ruang makan. Sore hari peserta diberi kesempatan olahraga umum seperti jogging atau berjalan santai untuk menyegarkan kondisi masing-masing,” jelasnya.

Sementara itu, peserta SPPI asal Mojokerto, Wikandri Restu Yuniarti, mengaku bangga dapat mengikuti pelatihan setelah dinyatakan lulus seleksi Computer Assisted Test (CAT). Lulusan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Malang serta dua program magister tersebut mengaku awalnya sempat khawatir dengan berbagai informasi yang beredar mengenai pelatihan.

“Awalnya saya mengikuti program ini agak takut karena banyak desas-desus program ini sangat berat. Tapi nyatanya pada saat saya di sini, programnya sangat menyenangkan. Kami mendapatkan materi manajerial, leadership, networking dengan peserta dari seluruh Indonesia, dan pendamping dari Baton maupun Danton juga sangat ramah,” ungkapnya.

Menurut Wikandri, seluruh aktivitas selama pelatihan berlangsung teratur, mulai dari jadwal ibadah, makan, hingga waktu istirahat. Ia juga menilai berbagai pemberitaan yang menyebut pelatihan berlangsung berat tidak sesuai dengan kondisi yang dialaminya.

“Yang paling terasa di sini adalah disiplin. Makan tepat waktu, ibadah tepat waktu, tidur juga tepat waktu. Latihan fisiknya juga tidak berat karena selalu disesuaikan dengan kondisi peserta. Justru program ini sangat bermanfaat untuk membentuk kepemimpinan dan karakter kami sebagai calon kader manajer,” tuturnya.

Penulis: Ries

Editor: Alfa

42

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *