13.500 Titik Panas Terdeteksi di Kaltim, BMKG Prediksi El Nino Menguat
FOTO: Ketua Bidang Data dan Informasi BMKG Balikpapan, Huda Abshor Muhsinin saat menejalskan titik hotspot di Kalimantan Timur/ doc.
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balikpapan mencatat lebih dari 13.500 titik panas (hotspot) terdeteksi di Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang 1–24 Agustus 2026. Jumlah tersebut berpotensi bertambah seiring prediksi puncak fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada September hingga Oktober.
Ketua Bidang Data dan Informasi BMKG Balikpapan, Huda Abshor Muhsinin, mengatakan kondisi El Nino tahun ini tergolong sangat kuat. Bahkan, peningkatan titik panas hingga 24 Agustus telah melampaui kondisi pada periode El Nino kuat 2015.
“Dibanding tahun 2015, saat ini El Nino-nya sudah memecahkan rekornya menjadi El Nino yang sangat kuat dalam periode 30 tahun terakhir,” kata Huda.
Menurut dia, jumlah hotspot di Kaltim yang terpantau sejak awal hingga 24 Agustus 2026 telah mencapai lebih dari 13.500 titik. Angka tersebut sekitar 35 persen lebih tinggi dibandingkan saat El Nino sangat kuat pada 2015.
Huda menyebut wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi saat ini berada di Kabupaten Berau, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara. Namun, ia menegaskan hotspot tidak dapat langsung diartikan sebagai kebakaran.
“Hotspot itu belum pasti kebakaran. Pemantauan citra satelit mendeteksi titik panas yang memiliki perbedaan suhu signifikan dibandingkan dengan lingkungannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, titik panas dapat muncul akibat kebakaran, aktivitas batu bara, pantulan panas dari atap bangunan, maupun sumber panas lainnya. Karena itu, diperlukan verifikasi lebih lanjut untuk memastikan penyebab munculnya titik panas di suatu wilayah.
BMKG memperkirakan jumlah hotspot masih berpotensi meningkat. Pasalnya, Kaltim belum memasuki puncak El Nino yang diproyeksikan terjadi pada September dan Oktober. Kondisi tersebut membuat Agustus masih menjadi bagian dari tren peningkatan titik panas menuju periode maksimum.
“Diperkirakan El Nino sangat kuat ini masih berlangsung hingga awal tahun depan, namun intensitasnya pasti akan berkurang sekitar Desember, Januari, dan Februari,” kata Huda.
Di sisi lain, BMKG turut mendukung pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk membantu meningkatkan curah hujan dan mengisi kembali waduk yang debit airnya menyusut.
Huda mengatakan OMC telah dilakukan beberapa kali dengan memanfaatkan pertumbuhan awan yang bergerak dari wilayah pesisir Balikpapan menuju kawasan IKN. Operasi tersebut disebut berhasil memicu hujan di sekitar wilayah Sepaku dan meningkatkan ketinggian air di daerah aliran sungai.
“Operasi modifikasi cuaca bertujuan meningkatkan curah hujan yang terjadi secara alami hingga rata-rata 30 persen,” ujarnya.
Dengan kondisi El Nino yang masih berlanjut, BMKG mengingatkan potensi peningkatan titik panas tetap perlu diwaspadai hingga memasuki akhir tahun. Pemantauan hotspot dan upaya pencegahan kebakaran menjadi penting, terutama di wilayah yang mengalami kondisi kering berkepanjangan.
Penulis: Ries
Editor: Alfa
44
