Bukan Operasi Biasa! 800 Kg Garam Ditabur dari Langit IKN, OMC Masuki Hari Ketiga

FOTO: Komandan Lanud Dhomber Balikpapan, Kolonel Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana, M.Han saat memberikan keterangan kepada awak media kegiatan OMC di hari ketiga di Lanud Dhomber Balikpapan (24/8/2026/ doc.

BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus dilakukan di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, dengan penyemaian garam natrium klorida (NaCl) menggunakan pesawat Cassa C-212. Operasi yang dimulai sejak Sabtu tersebut kini memasuki hari ketiga pelaksanaan.

Komandan Lanud Dhomber Balikpapan, Kolonel Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana, M.Han., mengatakan setiap penerbangan membawa 800 kilogram garam NaCl yang digunakan untuk menyemai awan potensial menjadi awan hujan.

Menurutnya, hingga pelaksanaan hari ketiga, pesawat telah melakukan sejumlah sorti penerbangan untuk mendukung operasi tersebut. Pada Senin pagi, dua penerbangan telah dilakukan dan masih dimungkinkan adanya penerbangan lanjutan berdasarkan hasil pemantauan kondisi awan.

“Kalau kita lihat dari hari Sabtu, hari Minggu, ini sudah lima sorti. Sekarang kami sedang bersiap melihat potensi awan untuk mencoba kemungkinan sorti ke-6,” ujar Sorga Laksana.

Ia menjelaskan, keputusan untuk melakukan penyemaian tidak dilakukan secara sembarangan. Tim penerbang bersama para ilmuwan atau flight scientist dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat terlebih dahulu memantau pertumbuhan awan berdasarkan data dan kondisi atmosfer terkini.

Penyemaian juga tidak dilakukan berulang kali pada awan yang sama. Awan yang telah disemai membutuhkan waktu untuk mengalami proses kondensasi dan pematangan sebelum berpotensi berkembang menjadi awan hujan.

“Penyemaian garam awan ini memang tidak bisa di satu awan. Dari data yang didapat dan pertumbuhan awan yang terdeteksi pada saat itu, akan dilaksanakan penyemaian sehingga awan tersebut bisa bertumbuh kemudian menjadi awan hujan,” katanya.

Untuk penerbangan berikutnya, tim akan mencari pertumbuhan awan yang berbeda. Hal itu dilakukan karena proses kondensasi atau pematangan awan membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam jam.

“Tadi sorti kedua sudah dilaksanakan dengan pertumbuhan awan yang berbeda. Untuk selanjutnya, kami bersama para scientist masih mengamati potensi awan berikutnya yang bisa dilaksanakan penyemaian garam NaCl,” kata Sorga Laksana.

Ia menambahkan, setiap sorti penerbangan membawa 800 kilogram NaCl sesuai dengan kapasitas angkut pesawat Cassa C-212. Penentuan awan yang akan disemai juga dilakukan berdasarkan hasil pengamatan ilmiah terhadap kondisi dan pertumbuhan awan.

Tim OMC masih terus memantau perkembangan awan di sekitar kawasan IKN untuk menentukan waktu dan lokasi penyemaian berikutnya. Langkah tersebut dilakukan agar pelaksanaan operasi dapat berlangsung efektif sesuai dengan kondisi atmosfer di lapangan.

Penulis: Ries

Editor; Alfa

30

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *