Ancaman Kemarau Panjang, Balikpapan Dorong Warga Mandiri Kelola Air

BALIKPAPAN, Metrokaltim.com — Ancaman kemarau panjang yang diprediksi terjadi dalam beberapa bulan ke depan, mendorong Pemerintah Kota Balikpapan untuk mengubah pendekatan penanganan krisis air, dari yang semula bertumpu pada pemerintah menjadi berbasis kesiapsiagaan masyarakat.

Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo mengatakan, prediksi dari BMKG menunjukkan potensi penurunan curah hujan signifikan hingga enam bulan ke depan. Kondisi ini dinilai berisiko mengganggu ketersediaan air bersih, terutama bagi kota yang masih bergantung pada sumber air terbatas.

“Kalau tidak diantisipasi sejak sekarang, dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama untuk kebutuhan dasar sehari-hari,” ucap Bagus kepada awak media, Selasa (31/3/2026).

Sebagai langkah awal, masyarakat diminta mulai menyiapkan cadangan air secara mandiri, seperti memasang tandon dan memanen air hujan. Upaya sederhana ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan utama saat musim kemarau mencapai puncaknya.

Menurutnya, Balikpapan saat ini masih mengandalkan dua sumber utama, yakni Waduk Manggar dan Waduk Teritip.

“Jika curah hujan menurun drastis, volume air di kedua waduk tersebut berpotensi menyusut dan berdampak pada distribusi air bersih,” terangnya.

Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari penambahan sumber air baku hingga penguatan infrastruktur. Salah satunya melalui pembangunan sumur dalam di beberapa titik.

“Tahun lalu ada lima sumur dalam dengan kapasitas sekitar 20 liter per detik per titik. Tahun ini kami harapkan ada penambahan lagi,” jelasnya.

Selain itu, optimalisasi Waduk Teritip Aji Raden juga terus dilakukan guna meningkatkan kapasitas pasokan air. Jika berjalan sesuai rencana, tambahan debit air dari proyek tersebut diperkirakan cukup signifikan untuk menopang kebutuhan warga.

Namun, solusi jangka panjang diarahkan pada pemanfaatan sumber air yang lebih stabil, yakni Sungai Mahakam. Pemerintah kota saat ini tengah mengkaji skema distribusi air dari sungai tersebut ke Balikpapan.

“Target kami dalam dua tahun ke depan sudah ada realisasi. Ini penting karena sumbernya lebih stabil dan tidak mudah terdampak kemarau,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak kemarau tidak hanya soal air bersih, tetapi juga berpotensi memicu kebakaran lahan dan gangguan lingkungan lainnya.

Karena itu, pemerintah mengajak masyarakat mulai berhemat air dan meningkatkan kesadaran terhadap pengelolaan sumber daya air.

“Dengan kolaborasi antara pemerintah dan warga, Balikpapan diharapkan mampu menghadapi ancaman kemarau tanpa mengalami krisis air yang serius,” tutupnya. ( Adv Diskominfo Balikpapan).

Penulis: Ar

Editor: Alfa

151

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.