Cegah Bullying Dimulai dari Rumah, Wawali Balikpapan Minta Orang Tua Lebih Banyak Mendengar Anak
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Perundungan atau bullying tidak cukup dicegah hanya dengan aturan di sekolah. Komunikasi yang hangat dan terbuka antara orang tua dan anak dinilai menjadi benteng pertama untuk melindungi anak dari berbagai persoalan, mulai dari kekerasan, pergaulan berisiko, hingga dampak negatif dunia digital.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, saat menghadiri peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang dirangkai dengan Rapat Gugus Tugas Kota Layak Anak (KLA) serta advokasi perlindungan anak, Kamis (23/7/2026).
Menurut Bagus, masih banyak persoalan yang dialami anak tidak terungkap karena minimnya komunikasi di lingkungan keluarga. Padahal, orang tua tidak hanya dituntut mengawasi, tetapi juga menjadi tempat paling nyaman bagi anak untuk bercerita.
“Yang paling penting adalah bagaimana kami sebagai orang tua bersama pemerhati anak terus memberikan pendidikan keluarga, pendidikan agama, serta membangun komunikasi yang baik dengan anak-anak,” ujar Bagus kepada media.
Ia menjelaskan, anak-anak saat ini menghabiskan sekitar 10 hingga 12 jam berada di luar rumah, baik di sekolah maupun lingkungan pergaulan. Kondisi tersebut membuat orang tua tidak bisa mengawasi anak sepanjang waktu, sehingga diperlukan sinergi dengan guru dan lingkungan sekitar.
“Hampir 10 hingga 12 jam anak-anak berada di luar jangkauan orang tua. Karena itu kami berharap selain keluarga, guru juga menjadi pendamping yang dapat mengawasi sekaligus memberikan motivasi, agar anak-anak terhindar dari kekerasan maupun perundungan di lingkungan sekolah,” katanya.
Wawali menilai tantangan yang dihadapi anak semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi dan media digital. Selain rentan menjadi korban maupun pelaku perundungan, anak juga berpotensi menghadapi berbagai bentuk kekerasan dan pengaruh negatif dari lingkungan maupun media sosial.
Karena itu, komunikasi yang intens antara anak, orang tua, dan guru menjadi langkah penting untuk mendeteksi persoalan sejak dini. Anak pun diimbau tidak memendam masalah yang dihadapi.
“Komunikasi yang terjalin dengan baik akan membantu orang tua memahami persoalan yang dihadapi anak sejak dini, sehingga dapat memberikan pendampingan dan solusi yang tepat,” tambahnya.
Sebagai bagian dari upaya pencegahan, Pemerintah Kota Balikpapan menggelar advokasi perlindungan anak dengan menghadirkan dokter spesialis kebidanan Triseno Aji dan psikolog Patricia Rahmawati.
Keduanya memberikan edukasi mengenai perlindungan anak, kesehatan mental, serta pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari perundungan.
Di sisi lain, Pemkot Balikpapan juga terus memperkuat pemenuhan hak anak melalui program KLA. Pada 2026, Balikpapan berhasil meraih predikat Utama dalam penilaian KLA dan menargetkan peningkatan menjadi predikat Paripurna pada tahun mendatang.
Momentum Hari Anak Nasional 2026 diharapkan menjadi pengingat bahwa perlindungan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.
“Keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran yang sama penting dalam menciptakan ruang tumbuh yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan anak secara optimal,” tutupnya.
Penulis: Rie
Editor: Alfa
31
