Flare HCC Menyala, RDMP Balikpapan Siap Melaju ke Tahap Operasi

Simbul awal operasional: Flare setinggi 145 meter di sisi barat Kilang Balikpapan mulai berfungsi sebagai sistem keselamatan utama. Foto ; KPB

BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) mencatat tonggak baru dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dan Lawe-Lawe dengan keberhasilan penyalaan flare pada unit Hydrocracking Complex (HCC), Selasa (7/10). Keberhasilan ini menjadi penanda dimulainya fase commissioning atau uji coba peralatan sebagai tahap awal menuju pengoperasian unit kilang baru.

Flare atau cerobong pembakar gas ini memiliki peran penting dalam sistem keselamatan kilang. Fungsinya untuk membakar gas sisa dari proses pengolahan sehingga mencegah pencemaran udara dan menjaga stabilitas operasi. Dengan penyalaan flare HCC, sistem keselamatan kilang dinyatakan semakin lengkap dan sesuai standar internasional.

“Penyalaan flare bukan sekadar capaian teknis, tapi juga bentuk nyata komitmen kami untuk menghadirkan energi yang andal, aman, dan ramah lingkungan bagi bangsa,” ujar Vice President Legal & Relation PT KPB, Asep Sulaeman, dalam keterangannya.

RDMP Balikpapan merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan meningkatkan kapasitas, kualitas, dan kompleksitas pengolahan di Kilang Balikpapan. Proyek ini ditargetkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional.

Secara teknis, flare HCC dibangun di struktur yang sama dengan New Flare Balikpapan II (BPP II) yang telah beroperasi sejak 2021. Flare setinggi 145 meter di atas permukaan laut ini ditopang fondasi baja tahan karat berdiameter 78 inci, dan dipasang menggunakan metode gin pole dengan bantuan teknisi spesialis Rope Access Technician (RAT) untuk mengatasi keterbatasan akses lokasi.

Menariknya, flare HCC dan BPP II menjadi satu-satunya flare di Indonesia yang dibangun di area perairan, tepat di sisi barat Kilang Balikpapan. Lokasi tersebut dipilih untuk meminimalkan risiko keselamatan dan telah dilengkapi fasilitas navigasi laut serta pembatas zona aman agar aktivitas pelayaran tidak mengganggu operasional kilang.

Dalam proses penyalaan, PT KPB menerapkan prosedur ketat berbasis prinsip Health, Safety, Security, and Environment (HSSE). Kegiatan mulai dari uji sistem, pemantauan emisi, hingga simulasi kondisi darurat dilakukan secara terintegrasi dengan dukungan pemerintah daerah dan lembaga terkait.

Asep menambahkan, keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi banyak pihak. “Ini adalah hasil sinergi antara pekerja KPB, kontraktor, dan masyarakat sekitar. Dengan semangat kerja sama, kita bisa menghadirkan kilang berstandar global yang memberi manfaat besar bagi masyarakat dan bangsa,” tutupnya.

411

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.