Jejak Warna dari Tanah Borneo: Ny. Satoro Lestarikan Sulam Tumpar Kalimantan Timur

Telaten dan penuh makna, Ny. Satoro menyelesaikan Sulam Tumpar khas Kalimantan Timur yang sarat nilai budaya dan tradisi. Foto: Ist.

BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Ny. Satoro terus berupaya melestarikan Sulam Tumpar, kerajinan khas Kalimantan Timur, yang telah diwariskan secara turun-temurun di keluarganya. Perempuan bernama kecil Sumanti ini menekuni sulaman tersebut sejak usia dini dan kini menjadikannya sebagai profesi sekaligus sarana menjaga warisan budaya daerah.

“Kecintaan saya pada sulam tumpar tumbuh sejak kecil. Selain hobi, ini juga membantu ekonomi keluarga,” ujar Ny. Satoro.

Ia menjelaskan, proses pembuatan Sulam Tumpar diawali dengan menyiapkan kain belacu atau dril sebagai bahan dasar. Pola motif digambar secara manual, kemudian bagian tepi dirajut menggunakan benang levis berwarna hitam atau menyesuaikan desain. Bagian tengah motif diisi dengan benang wol berwarna cerah yang menjadi ciri khas Sulam Tumpar. Proses tersebut membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan konsistensi agar menghasilkan sulaman yang rapi dan bernilai jual.

Motif yang digunakan umumnya terinspirasi dari kekayaan budaya dan alam setempat, seperti anggrek, burung enggang, dan naga. Burung enggang dikenal sebagai simbol kebesaran dan kehormatan dalam budaya Dayak, sementara motif flora merepresentasikan kekayaan alam Kalimantan. Warna-warna cerah yang digunakan melambangkan semangat dan harapan. Meski demikian, Ny. Satoro menilai inovasi tetap diperlukan agar Sulam Tumpar diminati generasi muda tanpa meninggalkan nilai tradisi.

Selain sebagai perajin, Ny. Satoro juga aktif dalam kegiatan organisasi. Ia merupakan anggota Persit Kartika Chandra Kirana Anak Ranting 3 Komlek Cabang II PD VI/Mulawarman. Sebagai istri prajurit TNI, ia turut berperan dalam pemberdayaan ekonomi kreatif dengan melatih anggota Persit membuat Sulam Tumpar.

Upaya pelestarian juga dilakukan di lingkungan keluarga. Ia mulai mengenalkan keterampilan menyulam kepada kedua putrinya sebagai generasi penerus.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah memperkenalkan Sulam Tumpar kepada generasi muda di tengah arus modernisasi. Ia berharap kerajinan tersebut semakin dikenal luas, tidak hanya di tingkat daerah tetapi juga nasional.

“Budaya adalah jati diri kita, jangan biarkan punah tergerus zaman,” katanya.

Melalui berbagai kegiatan pelatihan dan produksi yang konsisten, Ny. Satoro berkomitmen menjaga Sulam Tumpar tetap hidup sebagai identitas budaya Tanah Borneo.

318

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.