Lakukan Diversifikasi Usaha, Tegakkan Kembali Perekonomian Keluarga

Kiat Pelaku UMKM Bertahan di Tengah Pandemi (Bagian-1)

Keberadaan pandemi Covid-19 di Indonesia menjadi sebuah pukulan bagi hampir seluruh lini usaha. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pun tak luput terkena dampaknya. Mereka harus berjibaku untuk tetap bertahan. Apalagi, UMKM merupakan unsur penting dalam mendorong roda perekonomian tetap berjalan.

UMKM menjadi sektor usaha yang terdampak paling parah terdampak dengan keberadaan pandemi Covid-19. Omzet mengalami penurunan signifikan sejak pemerintah memberlakukan sejumlah kebijakan. Misalnya, jaga jarak yang membuat masyarakat membatasi aktivitasnya.

Dampak kebijakan itu sangat dirasakan pelaku UMKM. Tidak Terkecuali di Balikpapan, terutama mereka yang memproduksi buah tangan khas Kota Minyak. Salakilo salah satunya. Aneka kudapan hasil olahan buah salak yang dirintis sejak 2012 lalu oleh Riswah Yuni tersebut tidaklah asing. Baik itu bagi warga dalam maupun luar Kota Balikpapan.

Dikatakan perempuan ramah tersebut, sebelum pandemi covid-19 menyebar di Kota Balikpapan, kudapan unik ini laris manis diburu masyarakat. Entah sekadar untuk camilan di rumah ataupun oleh-oleh. Namun, sejak adanya kebijakan pembatasan sosial untuk menekan penyebaran covid-19, tidak bisa dipungkiri memberikan dampak terhadap usahanya.

“Pertengahan Maret terasa sekali, begitu pelabuhan dan bandara ditutup,” katanya saat ditemui di tokonya yang terletak di Jalan MT Haryono, dekat Pasar Buton.

Usahanya, lanjut perempuan yang akrab disapa Yuni tersebut, mengusung tiga konsep. Tidak hanya toko oleh-oleh, namun juga rumah makan dan cooking class. Karena pandemi, maka otomatis cooking class setop. Anak sekolah yang menjadi peserta kelasnya libur, sehingga tidak mungkin mereka akan berkunjung.

Sementara untuk penjualan oleh-oleh, sejak pandemi masyarakat yang berkunjung ke tokonya hanya membeli kue untuk dikonsumsi sehari-hari. Oleh karenanya, jumlahnya tidak banyak. Berbeda halnya ketika masyarakat membeli produknya untuk kebutuhan oleh-oleh. Jumlahnya bisa mencapai puluhan dalam sekali pembelian.

“Beli cake paling satu atau dua. Padahal, sebelumnya, orang datang bisa beli sampai sepuluh. Karena kalau beli oleh-oleh ‘kan banyak ya,” terang perempuan berhijab tersebut.

Yuni bersyukur, penurunan omzet tidak dialami usahanya yang lain. Rumah makan yang berada di depan tokonya tidak membuatnya khawatir. Selama pandemi, transaksi jual-beli ayam bakar madu yang menjadi andalan ada setiap harinya.

“Kalau di depan (rumah makan, Red) lebih aman. Karena ‘kan untuk dikonsumsi sehari-hari. Orang masih butuh makan, jadi saya rasa aman kalau yang di depan,” jelasnya.

Untuk membangkitkan kembali usaha oleh-olehnya, perempuan yang akrab disapa Yuni tersebut melakukan diversifikasi usaha. Dirinya mengeluarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

“Akhirnya kami coba keluarkan Salak Tea Serai. Karena saya lihat, apa sih yang dicari masyarakat saat ini, paling mereka butuhkan. Kalau konsumsi kue setiap hari kayaknya enggak mungkin, karena harganya kan lumayan. Padahal mereka kan sedang berhemat,” ungkapnya.

Produk barunya terdiri dari bahan-bahan yang dapat meningkatkan imun tubuh. Terdiri dari buah salak sebagai pengganti gula, rebusan kulit salak untuk obat diabetes, serai, jahe merah, cengkih, kayu manis, dan daun pandan.

“Itu kami coba promosikan di media sosial, alhamdulillah, penjualannya bagus,” kata Yuni.

Tidak hanya untuk meningkatkan pendapatan, hal itu dilakukannya untuk membantu para petani salak. Para petani mengeluh permintaan salak semakin sedikit, padahal panen mereka berlimpah. Hal ini dikatakan Yuni menjadi beban moral tersendiri.

“Niat saya ‘kan juga ingin bantu petani karena mereka mengeluh,” ujarnya.

Diluncurkan bulan Maret, Salak Tea Serai mendapat sambutan positif dari masyarakat. Dalam satu hari, rata-rata ada 30-50 botol yang terjual. Per botol berukuran 250 ml ini dijual dengan harga Rp 20 ribu.

“Kalau kemarin laris karena orang masih ketakutan, kalau sekarang tinggal 20 botol hingga 30 botol,” terang Yuni.

Tidak hanya itu, pada Juni lalu atau bertepatan Lebaran, dirinya juga membuat hampers rustic. Dipromosikan melalui media sosial, lagi-lagi masyarakat merespons positif inovasinya. Dirinya bahkan mengaku kewalahan dengan pesanan yang datang.

“Kebanyakan yang pesan itu malah bukan warga Balikpapan. Melainkan warga luar Balikpapan yang tidak bisa pulang ke Balikpapan,” tutupnya.

Hal senada diungkapkan pelaku UMKM lainnya, Sri Sunarti. Perajin batik khas Balikpapan yang telah meniti usahanya sejak tahun 2017. Awal mendirikan usaha, dirinya mengaku hanya coba-coba. Bermula dari keisengannya mengikuti kegiatan di sanggar kegiatan belajar, CSR salah satu perusahaan minyak.

“Setelah beberapa kali coba, akhirnya ikut pelatihan dan makin maju. Tahun 2017, saya mulai mengerti batik tulis itu seperti apa,” kata perempuan yang biasa dipanggil Sri ini.

Meski demikian, Sri saat ditemui di rumahnya di Jalan RE Martadinata Nomor 31 RT 11, Gang Flamboyan, Kelurahan Mekar Sari, Balikpapan Tengah menambahkan, rupanya batik tulis hanya diminati kalangan atas. Dirinya menginginkan batik buatannya bisa dijangkau semua kalangan.
Perempuan berusia 58 tahun tersebut lantas merambah batik printing.

“Batik ini pun mulai dikenal. Pesanan dari instansi mulai berdatangan untuk digunakan sebagai seragam. Tapi batik printing ini motifnya saya buat sendiri. Beda daripada yang lain. Kalau orang enggak tahu dikira batik tulis, padahal batik printing,” urai dia.

Batik adalah jiwanya. Dirinya telah jatuh cinta dengan seni membatik sejak ikut pelatihan. Menjaga kualitas menjadi kunci usahanya untuk tetap bertahan. Selain inovasi dan kreativitas yang harus terus diasah.

Usaha yang dijalankan tidaklah selalu mulus. Sri mengaku turut merasakan dampak keberadaan Covid-19. Terjadi penurunan penjualan secara signifikan. Bahkan tidak ada pembelian atau pesanan batik sama sekali. Padahal sebelum pandemi, pesanan batik tiap bulannya rata-rata 100 meter hingga 150 meter. Sri membanderol batik printing-nya dengan harga Rp 80 ribu per meternya, sementara untuk batik tulis dimulai dengan harga Rp 600 ribu. Dirinya mampu meraup hingga Rp 9 juta.

“Selama pandemi, omzet pembelian batik menurun. Baru akhir-akhir ini ada pembelian. Setelah empat bulanan baru ada pesanan batik lagi,” ungkapnya.

Namun, Sri tidak mau menyerah dengan keadaan. Dia menuntut dirinya untuk lebih kreatif. Kecintaannya pada batik menuntunnya untuk membuat produk yang dibutuhkan saat pandemi. Ya, dirinya lantas memutuskan membuat masker. Tak dinyana, pesanan masker bak air mengalir.

“Semakin ke sini pembuatan masker juga mengalami peningkatan. Soalnya karena ada pesanan yang banyak dari dinas (Dinas Koperasi, UMKM, dan Perindustrian). Awalnya saya bikin 1.000, kemudian 1.500, nah sekarang 3.000. Selain dari dinas, ada juga dari partai,” paparnya.

Tidak hanya itu, Sri melanjutkan, dirinya juga kembali mendapat pesanan masker dari pemerintah kota sebanyak 6 ribu masker. Belum lagi pesanan masker dari luar kota yang mencapai lima ribu buah. Dari pembuatan masker ini, dirinya mampu mengantongi Rp 8 juta. Masih mengalami penurunan, namun selisihnya tidak banyak seperti awal-awal pandemi.

Dirinya pun mengaku bersyukur dengan adanya pesanan masker ini. Pesanan inilah yang membuat usahanya menjadi stabil. Dirinya pun bisa kembali mempekerjakan ketiga karyawannya.

“Alhamdulillah, pesanan masker ini cukup menutupi. Kalau masker, kurang lebih omzetnya. Untung ada masker, kalau tidak ada, pasti terdampak sekali,” pungkasnya.

(riyan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *