Pembangunan Pelabuhan Terus Berjalan, KEK Maloy Kutim Siap Terima Investor, Perkuat Perekonomian dan Buka Lapangan Kerja

Kutai Timur, Metrokaltim.com – Salah satu Pelabuhan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) perkembangan kini telah sampai pada tahap konsolidasi untuk memperkuat, meyatukan, memperteguh hubungan, persatuan, dan kelompok. Di perkuat oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan memperkuat hilirisasi industri di segala sektor.

Ditemui Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMD-PTSP) Kutim, Saipul Ahmad menjelaskan hilirisasi di bidang kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dari tahun ke tahun selalu menjadi penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Selain itu alasan utama di pilihnya kawasan Maloy tersebut karena memiliki letak geografis yang berhadapan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II atau Selat Makassar, lokasi itu di anggap sangat strategis.

Serta penyusunan peta jalan atau roadmap hilirisasi industri, yang merangkum rencana hilirisasi secara sistematis proses nilai tambah produk industri mulai menjadi target utama Presiden RI Joko Widodo. Saat ini sekira 10 investor sudah melirik KEK MBTK untuk bergabung diantaranya PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSN Group), PT Gunta Samba Group, PT Anugerah Lestari, Indofood Group, PT Toba Group.

Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMD-PTSP) Kutim, Saipul Ahmad.

Bahkan ada juga PT Barokah yang bergerak dibidang pencampuran biodisel dari bahan baku sawit. KEK MBTK ditargetkan akan mencapai investasi Rp 37,71 triliun. “KEK MBTK tersebut diperkirakan akan mampu memperkerjakan 55.700 tenaga kerja. KEK MBTK juga diproyeksikan menambah nilai produk domestik regional bruto (PDRB) Kutim sebesar Rp 4,67 triliun pada tahun 2025,” terangnya.

Ia juga mengatakan Jika dari sudut utara ke selatan, KEK Maloy tepat di pusat Kalimantan, Pulau Jawa, Sulawesi, Filipina, bahkan Laut Tiongkok Selatan, yang sangat mudah di jangkau dari pelabuhan berkelas internasional ini. Pelabuhan KEK MBTK ini memiliki kedalaman 18 sampai 22 meter dari pinggir atas daratan ujung kapal berlabuh ke arah laut sampai ujung buritan kapal berlabuh pada saat air surut.

“Dan Kalau kita liat CPO ini menjadi penyumbang terbesar di Indonesia setiap tahunnya inilah yang menjadi target kita menarik investor besar untuk mengembangkan kawasan ini, peluang terbuka besar bagi pelaku usaha. Saat ini sudah ada tiga gedung yang berdiri di sana Kantor Kawasan Administrator, Gedung Damkar dan Gedung Badan Pengelola,” bebernya.

Adapun persoalan kendala lahan, saat ini KEK MBTK Sudah tidak mengalami permasalah itu dari luasan area 509,34 hektare sekira 400 hektare lahan sudah siap di gunakan untuk industri. Kelengkapan lainnya pun sudah nampak dari PLN, jaringan spam air bersih, dan internet sudah di sediakan.

Pelabuhan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) di Kabupaten Kutai Timur.

Saipul Ahmad menambahkan Air baku dari mata air tersebut dipompa menuju IPA di KEK Maloy melalui pipa transmisi air baku diameter 500 mm sejauh 28 KM. Air baku diolah terlebih dahulu di IPA kemudian sebagian ditransfer menuju reservoir booster juga di alirkan dengan kapasitas 200 liter perdetik yang di kerjakan oleh dinas PUPR Kaltim

“Penyelesaian pelabuhan internasional itu di perkirakan menelan biaya sebesar Rp 700 miliar dari sumber pembiayaan dengan sharing APBD, APBN, dan BUMN. Nantinya dengan rampungnya pelabuhan internasional sangat di harapkan menumbuhkan kawasan industri bergantung dan berkesinambungan dan membawa dampak positif bagi daerah.

“Akan banyak keuntungan bagi Kutim jika KEK MBTK ini berjalan, terutama akan mempekerjakan tenaga kerja lokal dan untuk keuntungan lainnya 55 persen untuk pemprov melalui Perusda PT. MBS dan 45 persen melalui Perusda Kutim. Itulah contoh positif di bangunnya pelabuhan skala internasional ini,” tutupnya

Ada pun keuntungan KEK MBTK bagi Kabupaten Kutai Timur ini adalah satu obyek yang menjadi tujuan Big Brands ekonomi Kaltim. Karena kawasan KEK ini hanya satu di Pulau Kalimantan Timur adalah satu yang di design oleh Gubernur Kaltim Awang Faroek ketika meletakan misinya untuk bergerak di bidang agro bisnis dan agro industri di awali dengan pembangunan daerah hulunya.

(adv/rina/riyan)

Leave a Reply

Your email address will not be published.