Dari Data ke Aksi, Cara RT 59 Batu Ampar Kelola Kebutuhan Warga Berbasis Digital
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Pendataan warga di tingkat Rukun Tetangga (RT) kini tak lagi sekadar administrasi. Di RT 59 Kelurahan Batu Ampar, Balikpapan Utara, data justru menjadi dasar pengambilan keputusan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Melalui Sistem Informasi Terpadu (SISTER), pengurus RT mampu memantau kondisi warganya secara real time, sekaligus merancang program berbasis kebutuhan nyata di lapangan.
Ketua RT 59, Tamuji Hari Wartono menjelaskan, sistem ini tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga mengolahnya menjadi informasi yang mudah digunakan.
“Sekarang kami tidak perlu mendata manual. Tinggal buka sistem, langsung terlihat jumlah balita, lansia, hingga komposisi warga lainnya,” ucap Tamuji kepada media, Rabu (1/4/2026).
SISTER memanfaatkan platform digital sederhana, yakni Google Form yang terhubung ke Google Sheet. Warga mengisi data secara mandiri, mulai dari identitas, jumlah anggota keluarga, hingga aktivitas sosial. Seluruh data otomatis tersusun dan bisa diakses kapan saja.
“Lebih dari sekadar efisiensi, pendekatan ini mengubah cara RT bekerja. Jika sebelumnya program bersifat umum, kini kebijakan bisa disesuaikan dengan kondisi riil warga,” lanjutnya.
Sebagai contoh, data yang terkumpul telah digunakan untuk mendukung kegiatan posyandu dan PKK. Informasi jumlah balita dan lansia membantu kader dalam menyiapkan layanan yang lebih tepat sasaran.
“Semua jadi lebih terarah. Kita tahu siapa yang butuh layanan dan berapa jumlahnya,” kata Tamuji.
Ke depan, RT 59 berencana mengembangkan SISTER ke tahap yang lebih strategis, yakni perencanaan ketahanan pangan. Warga akan diminta mencatat kebutuhan konsumsi bulanan seperti beras, minyak, telur, dan daging.
Dari data tersebut, pengurus RT dapat menghitung total kebutuhan pangan seluruh warga dalam satu wilayah, bahkan hingga skala tonase.
“Kalau sudah terdata, kami bisa memperkirakan kebutuhan pangan bersama. Ini penting untuk antisipasi ke depan,” jelas Ketua RT.
Langkah ini menunjukkan bahwa perencanaan berbasis data tidak harus dimulai dari level besar, tetapi bisa tumbuh dari komunitas terkecil.
Selain itu, sistem ini juga dirancang inklusif. Seluruh warga, baik penduduk lama maupun pendatang, dilibatkan tanpa perbedaan. Saat ini, sekitar 130 kepala keluarga di RT 59 telah berpartisipasi dalam program tersebut.
Lurah Batu Ampar, Awan Darmawan menilai, inovasi ini sebagai langkah maju dalam mendorong digitalisasi di tingkat masyarakat.
Menurutnya, SISTER sejalan dengan Gerakan Warga Serentak Digital (GWS Digi) yang bertujuan meningkatkan literasi digital sekaligus memperkuat kemandirian warga.
“Inovasi seperti ini penting karena langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Bisa menjadi contoh bagi wilayah lain,” ujarnya.
Pihak kelurahan pun berkomitmen memberikan dukungan, termasuk melalui pembinaan kader PKK agar program serupa dapat berkembang dan berkelanjutan.
Dengan pendekatan ini, RT tidak lagi hanya menjadi unit administratif, tetapi juga pusat pengelolaan informasi dan perencanaan berbasis data membawa perubahan nyata dari lingkungan terkecil.
Penulis: Ar
Editor: Alfa
152
