Dua Minggu Ini, 85 Sapi dan 5.600 Kambing Masuk ke Balikpapan

Balikpapan, Metrokaltim.com – Beredarnya wabah penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tentu sangat berdampak pada peternak sapi. Hal itu juga disebabkan pasokan sapi jelang Idul Adha menjadi berkurang, seperti yang terjadi di kota Balikpapan.

Saat ditemui dikantornya, Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (DP3) kota Balikpapan Heria Prisni menjelaskan, untuk persiapan hewan kurban di Balikpapan membutuhkan sekitar 3.000 ekor sapi. Mengingat tahun 2021 lalu, stok sapi yang dibutuhkan berjumlah 2.950 ekor.

Sementara untuk stok sapi di Balikpapan baru ada 1.300 ekor, sehingga masih membutuhkan 1.700 ekor sapi dari luar daerah seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi.

“Dan bersyukur sapi yang berasal dari NTT dan Sulawesi sudah bisa masuk ke Balikpapan, dengan syarat melakukan karantina selama 14 hari di daerah asal dan 3 hari Balikpapan,” ucap Heria Prisni kepada awak media, Selasa (7/6/2022).

Lanjut Heria, karena untuk daerah Jawa Timur, Aceh, Jawa Barat Kalimantan Tengah dan Selatan, Jawa Tengah da Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah dinyatakan wabah PMK, dan mereka pun di Lockdown.

Dikatakan, karatina itu dilakukan untuk memastikan bahwa sapi tersebut tidak menunjukkan gejala krinis seperti demam sampai 41 derajat, mulutnya sariawan dan pecah-pecah, air liur netes berlebihan dan kuku kaki melepuh.

“Ketika sapi itu tidak menunjukkan gejala krinis, baru diperbolehkan untuk dikirim ke rumah potong hewan (RPH) ataupun dijual,” jelasnya.

Ia menyatakan, bahwa dalam waktu 2 minggu ini akan datang lagi sekitar 85 ekor sapi melalui surat karantina disana (NTT dan Sulawesi). Dan mudahan setelah 2 minggu ada lagi stok yang masuk.

Sedangkan untuk stok kambing ada 300 ekor, yang dibutuhkan kurang lebih 1.000 ekor. Hanya saja surat yang masuk ke DP3 melalui rekomendasi dan sudah dalam tahap karatina ada sekitar 5.600 ekor kambing, hal ini untuk mengantisipasi kurangnya stok sapi yang dibutuhkan jelang Idul Adha.

“Jadi dua minggu nanti akan masuk kambing sekitar 5.600 ekor, kalau sapi masih 85 ekor dari NTT dan Sulawesi,” imbuhnya.

Meski Balikpapan tidak termasuk daerah pandemik PMK, tetapi diarahkan untuk menutup sementara jalur distribusi sapi maupun kambing dari luar daerah terdampak PMK.

“Jangan sampai masuk Balikpapan, kasihan peternak sapi karena penularannya cepat sekali,” tuturnya.

Heria mengakui tingginya risiko kematian hewan ternak yang diakibatkan oleh wabah ini. Meski tidak berisiko terhadap manusia apabila dikonsumsi, wabah PMK tentu berdampak kerugian bagi peternak.

“Sapi (ternak) bisa mati tiba-tiba kalau tertular, kasihan peternak kita kalau begitu. Sebenarnya kalau untuk dikonsumsi manusia, asalkan dimasak dengan benar masih aman,” paparnya.

Sampai saat ini, pihak DP3 terus mengantisipasi penyebaran wabah PMK dengan menurunkan dokter hewan ke lapangan. Dan alhamdulilah tidak ada yang menunjukkan gejala krinis. (Mys/ Rries).

290

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.