Evaluasi Pengelolaan Bandara APT Pranoto, Komisi III Gelar Rapat dengan UPTD

Samarinda, Metrokaltim.com – Komisi III DPRD Kaltim menggelar rapat dengan UPTD Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto dan Dinas Perhubungan Kaltim, pada Senin (15/2). Dari hasil rapat tersebut mereka bersepakat membentuk tim yang akan bertugas melakukan evaluasi terhadap pengelolaan bandara yang berlokasi di Sungai Siring tersebut.

Ketua Komisi III DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud mengatakan dalam kesepakatan serah terima Bandara APT Pranoto ke Kemenhub, berjanji akan menyelesaikan kekurangan khususnya pada sisi udara.

“Sudah beberapa tahun berjalan akan tetapi banyak kekurangan, pengalaman dari rekan-rekan anggota DPRD dan masyarakat ketika pesawat sudah mau mendarat tetapi dibatalkan lalu kemudian berpindah ke Bandara Balikpapan. Kalau alasannya penerangan bukan kah sudah dipasang lampu di runway,” ujar Hasanuddin didampingi Seno Aji, Agus Suwandi, Baba, Amiruddin, Ekti Emanuel, Syafruddin, Harun Al Rasyid, Saifuddin Zuhri, Agus Aras, Mimi Meriami BR Panne, dan Syarkowi V Zahry.

Pihaknya meminta kepada pengelola Bandara APT Pranoto agar profesional dan transparan baik segi teknis maupun anggaran. Selain itu, agar lebih maju dan berkembang maka perlunya trobosan yang lebih siknifikan.

Kepala Bandara UPBU Kelas I Bandara APT Pranoto Agung Pracayanto mengatakan pada tahun 2020 pihaknya hanya mendapatkan anggaran pagar sisi udara, instalasi air bersih, dan lainnya. Belum bisa melakukan program besar karena refocusing anggaran. Terkait penerangan, kendati pemasangan lampu runway sudah selesai dilakukan tidak bisa serta merta langsung berfungsi sebab ada prosedur yang harus dilakukan.

Setelah selesai dipasang lampu ruyway kemudian tiga bulan setelah itu dikalibrasi. Setelah itu di bulan Juli 2020 dilakukan verifikasi dan menunggu sertifikat keluar, dan awal November 2020 sudah dipublikasi. Tetapi kemudian tidak bisa langsung digunakan karena harus dibuatkan instrumen prosedur penggunaan lampu yakni penerbangan berbasis satelit sudah keluar di 2021 lalu, kemudian dipublikasikan kembali, diharapkan april sudah bisa digunakan.

“Perubahan pendaratan karena pilot ragu-ragu melihat landasan pacu yang disebabkan cuaca, seperti kabut yang memengaruhi jarak pandang, karena tidak mau mengambil risiko dan alasan keselamatan maka pilot memilih terbang kembali ke bandara lain,” timpal Agung.

(adv/mk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *