SMP dan MTS Balikpapan Laksanakan Simulasi Assesmen Nasional Berbasis Komputer

Balikpapan, Metrokaltim.com – Pemerintah kota (Pemkot) Balikpapan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) melaksanakan simulasi untuk menyiapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), ketika Balikpapan sudah dinyatakan turun dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 ke level 3.

Kepala Disdikbud kota Balikpapan Muhaimin memaparkan, bahwa hari ini (13/9) seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan MTS di Balikpapan melaksanakan simulasi assesmen nasional berbasis komputer, yang dikenal dengan assessmen kompetensi nasional (AKN).

Dan itu dilakukan untuk kelas VIII, yang mana masing-masing sekolah menyiapkan 45 peserta didik, yang dibagi menjadi dua sesi mulai tanggal 13-17 September 2021.

Kemudian besok (14/9) Sekolah Dasar (SD) untuk kelas 5 juga akan melaksanakan simulasi AKN, karena AKN mereka juga berbasis komputer dibagi 14-15 itu tiga wilayah, kemudian 16-17 tiga wilayah yang mana masing-masing berisi 35 siswa dibagi dua shift.

“Assesment merupakan pengganti ujian nasional, yang akan berlaku di tahun 2022,” ucap Muhaimin saat ditemui di kantor DPRD Balikpapan, Senin (13/9).

Sementara untuk vaksinasi pelajar sampai saat ini sudah di atas 20 persen, ditambah lagi adanya bantuan dari BIN, Polda Kaltim melalui SPN dan bantuan dari masyarakat. Ia berharap mudah-mudahan vaksin untuk pelajar bisa disegerakan, sehingga semua mengeroyoki dari Dinas Kesehatan melalui Puskesmas, BIN dan Polda juga jalan, ditambah dari komponen masyarakat juga membantu.

“Dengan adanya itu tentu ini menambah semangat kita, jika Balikpapan sudah turun dari PPKM level 4 ke level 3. Sehingga bisa melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas,” ujar Muhaimin.

Sementara untuk target PTM tergantung dua hal, pertama apakah Balikpapan akan turun ke level 3 dan rekomendasi atau persetujuan wali kota selaku gugus tugas.

Namun diketahui bersama, bahwa murid SD belum ada vaksinnya, sedangkan untuk PTM-nya kembali ke mekanisme bahwa untuk PTM terbatas. Apalagi syarat untuk PTM tidak harus siswa di vaksin, namun guru yang di vaksin.

“Tetapi ini masalah keyakinan orangtua, mereka lebih yakin dan strek kalau anaknya di vaksin. Sehingga SD akan dikembali ke mekanisme, pertama pembelajaran yang tidak murni, tetapi ada kombinasi antara PTM dengan daring dan kedua diserahkan kembali ke orangtua,” ungkapnya.

(Mys/riyan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *