Tri Suci Waisak 2569: Refleksi Perubahan dan Seruan Damai di Tengah Dunia yang Bergejolak

Bhikkhu Sri Subhapanno: "Pemenang Sejati Adalah yang Mengalahkan Egonya Sendiri. (12/5/2025). Foto: Ries

BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Sekitar 300 umat Buddha memadati Mahavihara Buddhamanggala dalam perayaan Tri Suci Waisak tahun 2569/2025 yang berlangsung khidmat dan penuh makna, Minggu (11/5). Perayaan tahun ini mengangkat tema “Kebijaksanaan Sebagai Dasar Keluhuran Bangsa”, dengan pembabaran Dhamma oleh Bhikkhu Sri Subhapanno Mahathera.

Bhikkhu Sri Subhapanno Mahathera, menyampaikan pentingnya menumbuhkan kebijaksanaan di tengah dunia yang terus berubah dan penuh tantangan, termasuk bencana alam, konflik, serta ketidakpastian sosial dan politik yang melanda Indonesia dan dunia.

“Perubahan adalah kenyataan kehidupan yang tidak bisa ditolak. Alam tidak bekerja secara acak, dan pandangan para pemimpin pun berubah-ubah, apalagi dalam politik yang sering kali berjalan mengikuti kepentingan,” ujar Bhikkhu Sri Subhapanno.

Beliau menekankan bahwa pemimpin ideal adalah mereka yang memimpin dengan kebijaksanaan, memperhatikan sisi kemanusiaan, sosial, moralitas, serta berorientasi pada keadilan dan kesejahteraan. “Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menghancurkan egonya sendiri, bukan yang mengorbankan banyak orang demi kekuasaan,” tegasnya.

Mengutip ajaran Buddha dalam Cakkavati Sihanada Sutta, Bhikkhu Subhapanno menjelaskan bahwa pemimpin sejati adalah yang memimpin dengan cinta kasih, welas asih, dan empati. Ia mempertimbangkan apakah tindakan yang diambil membawa kedamaian atau kehancuran.

Beliau juga mengajak seluruh umat dan bangsa untuk tidak hanya melihat kemenangan dalam bentuk fisik atau kekuasaan. “Dalam Dhamma, pemenang sejati adalah yang bisa menaklukkan dirinya sendiri – menghancurkan kesombongan, ego, dan keangkuhan,” ucapnya.

Di tengah tantangan global dan konflik antarnegara, Bhikkhu Sri Subhapanno mengingatkan pentingnya dialog, bukan kekerasan. “Perdamaian tidak akan terwujud jika para pemimpin lebih memilih kekuatan senjata dibandingkan jalan kebijaksanaan,” katanya.

Penulis: Ries

Editor: Alfa

319

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.