Musim Kemarau Picu Peningkatan Titik Panas di Kalimantan Timur, BMKG Imbau Waspada Karhutla
BALIKPAPAN , Metrokaltim.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peningkatan jumlah titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Kalimantan Timur seiring memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh menurunnya curah hujan, sementara fenomena El Nino masih memberikan dampak terhadap kondisi cuaca meski belum signifikan.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Balikpapan, Huda Absor Mukhsinin, mengatakan peningkatan titik panas merupakan kondisi yang umum terjadi saat musim kemarau mulai berlangsung.
“Untuk titik panas ini memang karena kita sudah memasuki musim kemarau. Pasokan curah hujan pasti menurun sehingga meningkatkan jumlah titik panas di sekitar wilayah Kalimantan Timur. Ditambah lagi masih ada fenomena El Nino yang meski pada Juli dan Agustus pengaruhnya belum terlalu signifikan, namun tetap berdampak terhadap penurunan curah hujan,” ujarnya.
Menurut Huda, dampak El Nino diperkirakan akan semakin terasa dalam beberapa bulan mendatang. Ia menyebut peningkatan intensitas fenomena tersebut berpotensi memperpanjang durasi musim kemarau.
“Kita akan melihat peningkatan dampak El Nino ini mungkin dua hingga tiga bulan ke depan, yaitu pada September, Oktober, dan November. Sementara puncak musim kemarau diperkirakan masih terjadi pada Agustus. Namun apabila intensitas El Nino meningkat, kondisi itu bisa memperparah durasi kemarau,” jelasnya.
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, sebaran titik panas di Kalimantan Timur tersebar dari wilayah selatan hingga utara. Namun, konsentrasi terbanyak berada di wilayah tengah provinsi tersebut.
Huda mengungkapkan, Kabupaten Kutai Timur mencatat jumlah titik panas terbanyak dengan 27 titik, disusul Kabupaten Kutai Kartanegara sebanyak 15 titik. Sementara itu, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi atau berstatus merah terpantau berada di wilayah Berau dan Samboja berdasarkan hasil pemantauan pada Minggu, 12 Juli, pukul 01.00 hingga 24.00 WITA.
Selain itu, jumlah titik panas juga masih berfluktuasi dari hari ke hari. Meski demikian, secara umum terjadi tren peningkatan selama periode Juli hingga Agustus.
“Kalau kita lihat gambaran secara umum, rata-rata harian di wilayah Kalimantan Timur saat ini berada di atas 50 titik hotspot. Memang jumlahnya masih berfluktuasi, tetapi pada periode Juli hingga Agustus ada kecenderungan mengalami peningkatan,” katanya.
Meski demikian, Huda menegaskan bahwa keberadaan titik panas tidak selalu menunjukkan telah terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hotspot hanya mengindikasikan lokasi yang memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan wilayah di sekitarnya.
“Titik panas ini hanya menunjukkan koordinat yang memiliki suhu lebih tinggi daripada lingkungannya. Jadi tidak selalu berarti telah terjadi kebakaran hutan dan lahan, melainkan menunjukkan adanya potensi yang perlu diwaspadai,” tegasnya.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di kawasan hutan dan lahan, agar tidak melakukan pembakaran secara sengaja. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan selama puncak musim kemarau di Kalimantan Timur.
Penulis: Ries
Editor: Alfa
34
