SDN 001 Payung-Payung Maratua Hadapi Tantangan Infrastruktur dan Internet
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Di tengah keindahan Pulau Maratua yang dikenal sebagai salah satu beranda terdepan Indonesia, SDN 001 Payung-Payung terus berupaya memberikan layanan pendidikan terbaik bagi para siswanya.
Namun, sekolah yang menjadi pusat pendidikan bagi masyarakat setempat itu masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kondisi bangunan yang memerlukan perbaikan hingga keterbatasan akses internet untuk menunjang pembelajaran berbasis digital.
SDN 001 Payung-Payung saat ini melayani 94 siswa dengan dukungan 13 tenaga pendidik. Sekolah tersebut memiliki lima ruang kelas dan satu ruang guru yang menjadi sarana utama proses belajar mengajar. Meski aktivitas pendidikan tetap berjalan, sebagian fasilitas sekolah membutuhkan perhatian serius.
Salah satu ruang kelas diketahui mengalami kerusakan cukup parah. Atap bangunan mengalami kebocoran, plafon mulai runtuh, dan kondisi lantai yang rusak membuat ruangan tersebut belum dapat digunakan secara optimal. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik.
Selain persoalan infrastruktur, SDN 001 Payung-Payung juga menghadapi kendala dalam mendukung transformasi digital di sektor pendidikan. Sebagai upaya meningkatkan akses teknologi informasi, perangkat internet satelit dari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital telah terpasang di lingkungan sekolah.
Meski demikian, konektivitas yang tersedia saat ini dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan pembelajaran digital secara maksimal. Keterbatasan kapasitas internet menjadi hambatan bagi guru dan siswa, dalam mengakses berbagai sumber belajar berbasis daring yang semakin dibutuhkan dalam proses pendidikan modern.
Kepala SDN 001 Payung-Payung, Bahridin mengatakan, akses internet merupakan kebutuhan penting bagi sekolah, terutama untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan administrasi pendidikan.
“Kami mengajukan bantuan internet ini sudah lama sekali. Alhamdulillah akhirnya mendapat perhatian dan dilakukan survei oleh pihak terkait,” ujar Bahridin.
Menurutnya, keberadaan internet menjadi salah satu sarana penting bagi 13 guru dalam memberikan layanan pendidikan kepada 94 siswa yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
Sementara itu, Direktur Utama BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital, Fadhilah Mathar menambahkan, layanan internet yang saat ini digunakan sekolah berasal dari jaringan satelit SATRIA dengan kapasitas 4 Mbps.
Ia mengakui kapasitas tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal untuk mendukung pembelajaran digital secara optimal. Berdasarkan perhitungan kebutuhan layanan pendidikan, kapasitas internet yang ideal bagi sekolah berada pada kisaran 20 Mbps.
“Untuk pendidikan yang maksimal, kapasitas internet idealnya berada di angka 20 Mbps. Kami memahami kebutuhan sekolah-sekolah di wilayah terluar seperti Maratua yang membutuhkan dukungan konektivitas lebih baik,” tambah Fadhilah.
Selain mendukung kegiatan belajar mengajar, layanan internet satelit juga memiliki fungsi strategis sebagai sarana komunikasi darurat, terutama bagi wilayah kepulauan yang rentan menghadapi cuaca ekstrem maupun kondisi kedaruratan lainnya.
Kondisi yang dihadapi SDN 001 Payung-Payung mencerminkan tantangan pendidikan di kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) Indonesia. Di tengah keterbatasan sarana dan akses digital, para guru tetap menjalankan tugasnya untuk memastikan seluruh siswa memperoleh hak pendidikan yang layak.
Ke depan, peningkatan kualitas infrastruktur sekolah serta penambahan kapasitas internet diharapkan dapat memperkuat layanan pendidikan di Pulau Maratua.
“Dengan dukungan tersebut, para siswa di wilayah perbatasan Indonesia dapat memperoleh kesempatan belajar yang lebih setara dan mampu bersaing dengan pelajar di daerah lain,” pungkasnya.
Penulis: Rie
Editor: Alfa
37
