Simulasi Ledakan Kilang Pertamina Gegerkan Warga, Unjuk Rasa Muncul di Kantor Pusat
Aksi demo yang di kawasan Kilang Pertamina Internasional
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Suara sirene panjang yang berasal dari Kantor Besar Pertamina terdengar hingga beberapa kilometer di kawasan Jalan Minyak, Balikpapan, pada Rabu (4/12) sekitar pukul 10.30 WITA. Suara tersebut menandakan adanya kejadian darurat di Kilang Pertamina Balikpapan, yang memicu kekhawatiran di kalangan warga sekitar.
Ledakan yang terdengar berasal dari simulasi Major Emergency Drill (MED) Level 3 yang digelar oleh PT Kilang Pertamina Indonesia (KPI) RU V Balikpapan. Simulasi ini merupakan bagian dari upaya pengujian kesiapan menghadapi kondisi darurat di fasilitas kilang minyak terbesar di kawasan tersebut.
Menurut Pjs. General Manager PT KPI RU V Balikpapan, Novie Handoyo Anto, tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk menguji sejauh mana respons tim terhadap kejadian darurat berskala besar. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh prosedur penanganan keadaan darurat dapat dilakukan dengan tepat dan efisien.
“Simulasi ini penting untuk menguji kemampuan tim dalam menangani potensi kebocoran yang dapat berujung pada kebakaran. Kami tidak menginginkan kejadian sesungguhnya, namun kami harus selalu siap dengan langkah-langkah mitigasi yang tepat,” kata Novie dalam keterangannya.
Meskipun merupakan latihan, kejadian ini sempat membuat warga setempat cemas. Beberapa orang mengira bahwa kebakaran dan ledakan yang terjadi adalah peristiwa nyata. Bahkan, sebagian masyarakat yang berada di sekitar area kilang terpaksa dievakuasi ke lokasi yang lebih aman sebagai bagian dari skenario simulasi. Kejadian ini juga memicu aksi protes dari sekelompok warga yang merasa dirugikan, yang kemudian mendatangi Kantor Besar Pertamina. Ratusan orang tersebut berusaha melaksanakan unjuk rasa, namun berhasil dicegah oleh aparat kepolisian.

Novie menjelaskan lebih lanjut bahwa simulasi ini telah dipersiapkan dengan matang, meniru kejadian yang sesungguhnya, agar tim dapat merespons dengan cepat dan tepat. “Kami berharap simulasi ini tidak perlu menjadi kenyataan, namun kami harus siap menghadapi segala kemungkinan,” ujarnya.
Simulasi MED Level 3 ini, yang merupakan salah satu skenario darurat tingkat tertinggi, melibatkan berbagai pihak, termasuk manajemen Kilang Pertamina, petugas lapangan, dan pihak keamanan seperti kepolisian. Dalam latihan tersebut, skenario yang dimainkan menggambarkan terjadinya kebocoran yang berujung pada ledakan, yang kemudian memicu kebakaran dan berdampak pada pekerja serta masyarakat sekitar.
“Simulasi ini menunjukkan bagaimana kami menangani kebocoran yang berkembang menjadi ledakan, serta dampaknya terhadap pekerja yang sedang menangani kebocoran dan masyarakat sekitar. Kami bersyukur bahwa latihan ini berjalan dengan lancar,” tambah Novie.
Sebagai bagian dari prosedur tanggap darurat, MED Level 3 adalah salah satu simulasi darurat dengan dampak paling besar, yang mencakup tidak hanya aspek keselamatan pekerja, tetapi juga potensi gangguan pada operasional bisnis Pertamina secara keseluruhan. Novie menyebutkan bahwa pihaknya telah mempersiapkan sekitar 70% sumber daya yang dibutuhkan untuk menghadapi skenario tersebut.
“Simulasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa kami siap menghadapi segala potensi ancaman yang dapat mempengaruhi operasional dan keselamatan. Kami berharap melalui latihan ini, tim kami akan semakin siap dalam menghadapi situasi darurat yang sesungguhnya,” tutupnya.
Penulis: Ries
Editor: Alfa
647
