Pencurian Sarang Burung Walet di PPU Libatkan ASN, Beraksi di Tiga Lokasi

Penajam, Metrokaltim.com – Tujuh orang sindikat pencurian sarang burung walet di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dirngkus polisi. Salah satu pelaku merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN). Bahkan ada juga yang masih berstatus anak dibawah umur.

Kapolres Penajam Paser Utara, AKBP Muhammad Dharma Nugraha, membeberkan kronologis pengungkapan kasus ini. Semua bermula dari laporan warga. Warga mengadukan kepada Tim Rajawali Satreskrim Polres PPU, jika ada orang mencurigakan tengah menjual sarang burung walet di kawasan Kelurahan Petung, Kecamatan Penajam, PPU, pada Rabu (16/9) lalu.

Mendapat laporan tersebut, Tim Rajawali bergerak cepat mendatangi lokasi yang di maksud untuk menggelar penyelidikan. Sesampainya di sana, tim yang dipimpin Kanit Jatnlanras Polres PPU, Ipda Raymond Julianto, itu menemukan dua orang sedang membawa sarang burung walet. Merasa curiga, petugas kepolisian memeriksa kedua pria itu berserta barang bawaannya.

“Saat kami periksa, ternyata benar, sarang burung yang mereka bawa adalah hasil curian atau kejahatan,” kata Dharma, belum lama ini.

Petugas lantas menangkap kedua orang tersebut. Setelah itu mereka diperiksa untuk pengembangan kasus. Dari hasil pemeriksaan ini, kedua pria itu mengaku tidak bekerja sendiri dalam mencuri sarang burung walet. Mereka dibantu lima orang lainnya.

Mendapat inaformasi tersebut, Tim Rajawali bergegas memburu kelima orang yang dimaksud itu dan berhasil meringkusnya tak jauh dari lokasi penangkapan awal. “Para pelaku pencurian ini berinisial MR (24), AP (22), MS (19), H (39), S (31), AL (16), dan R (17),” ungkap Dharma.

Tersangka S, sebut Dharma, merupakan seorang ASN. Namun tak dijelaskan di mana S berdinas. “Satu anggota kawanan pencurian sarang burung walet berprofesi PNS atau ASN pemerintah kabupaten,” sebut perwira melati dua di pundak itu.

Setelah ditangkap, S bersama keenam rekannya itu dibawa ke Mapolres PPU untuk diperiksa lebih lanjut. Kepada penyidik kepolisian, mereka semua mengaku telah mencuri sarang burung walet di tiga lokasi berbeda di PPU.

Pertama terjadi di gedung sarang burung walet milik Ahcmad Hairi di Petung, Ahad, 2 Agustus 2020. Saat itu MR, AP, MS, H, S, AL, dan R mencuri pada sekira pukul 01.00 Wita. Kedua, mereka mencuri di gedung sarang burung walet milik Toni Irawan di Desa Sebakung Jaya, Kecamatan Babulu, PPU, pada Kamis (3/9) malam.

“Kemudian mereka juga mencuri di gedung sarang burung walet milik Subrawati di Kelurahan Gunung Steleng, Penajam, pada Rabu lalu, sekira pukul 03.00,” beber Dharma.

Selain menangkap pelaku pencurian, dalam kasus ini polisi juga menyita barang bukti yang diduga digunakan para pelaku untuk mencuri sarang burung walet. Seperti satu buah pahat, 35 buah sarang burung walet serta dua unit sepeah motor yang digunakan tersangka ke TKP.

“Selain itu kami juga mengamankan satu linggis yang digunakan untuk merusak kunci bangunan sarang burung walet dan satu palu besar yang digunakan untuk menjebol bangunan,” papar Kapolres.

Lebih lanjut, Dharma menjelaskan peran masing-masing para tersangka pencurian ini. MR disebut sebagai otak pencurian. Dia yang punya ide mencuri, mengajak mencuri, menentukan sasaran, merusak bangunan sarang burung walet, menjual serta membagi hasil penjualan sarang burung wallet kepada AP dan MS.

Sedangkan H bersama anak dibawah umur, yakni AL, bertugas mengawasi dan menjaga ketika pencurian berlangsung. Sementara S bersama R berperan mengambil sarang burung walet serta mengawasi, menjaga hingga menjual hasil curiannya.

“Semua (hasil pencurian sarang burung walet) sudah dijual. Jadi kemarin itu (pencurian) yang terakhir. Dari hasil pendalaman, jumlah akumulasi (keuntungan yang dididapat tersangka menjual sarang burung walet curian) kurang-lebih puluhan juta rupiah,” jelas Dharma.

Sementara itu, kata Kabid Humas Polda Kaltim, Kombes Pol Ade Yaya Suryana menambahkan, kini MR, AP, MS, H, S, AL, dan R, telah ditahan di sel tahanan Mapolres PPU. Mereka dijerat Pasal 363 ayat 1, 4 dan 5 KUHPidana, tentang tindak Pencurian dengan Pemberatan. Ancaman hukumannya sekitar tujuh tahun penjara.

“Sementara untuk yang masih dibawah umur akan diupayakan proses diversi terlebih dahulu,” tambah perwira melati tiga itu.

(sur/ryan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *