Perang Sarung Marak Saat Ramadan, Gepak Kuning Kaltim Imbau Orang Tua Lebih Waspada

Suriansyah, Ketua Umum Gepak Kuning kaltim-kaltara, foto: Ries

BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Tradisi perang sarung yang kerap terjadi setiap bulan Ramadan kembali mencuat di berbagai daerah, termasuk di Balikpapan, Kalimantan Timur. Aktivitas yang awalnya hanya sekadar permainan kini berubah menjadi aksi berbahaya yang dapat menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka.

Ketua Umum Gerakan Putera Asli Kalimantan (Gepak) Kuning Kaltim, Prof, mengimbau para orang tua agar lebih waspada terhadap anak-anak mereka, terutama selama libur sekolah di bulan suci ini. Menurutnya, perang sarung yang sering dilakukan remaja pada malam hari bisa berujung pada bentrokan yang lebih besar dan membahayakan keselamatan.

“Kami meminta kepada para orang tua untuk menjaga dan mengawasi anak-anak mereka agar tidak ikut dalam aktivitas yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Apalagi saat ini mereka sedang libur sekolah, yang membuat mereka lebih banyak waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya,” ujar Prof dalam keterangannya, Kamis (tanggal).

Perang sarung biasanya dilakukan oleh kelompok remaja yang saling berhadapan dan menggunakan sarung yang diikat sebagai senjata untuk memukul lawan. Namun, dalam beberapa kasus, perang sarung berujung pada aksi kekerasan yang melibatkan senjata tajam dan aksi tawuran. Tidak jarang, kejadian ini menyebabkan luka serius, bahkan korban jiwa.

Mengingat potensi bahayanya, Prof juga meminta pihak kepolisian, khususnya Polresta Balikpapan, untuk meningkatkan pemantauan dan patroli guna mencegah kejadian serupa seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Kami berharap pihak kepolisian bisa melakukan patroli lebih intensif di titik-titik yang sering dijadikan lokasi perang sarung. Dengan begitu, kejadian yang tidak diinginkan bisa dicegah sejak dini,” tambahnya.

Sementara itu, Kapolresta Balikpapan melalui jajarannya mengaku telah menyiapkan langkah-langkah antisipatif untuk mengatasi fenomena ini. Pihaknya akan meningkatkan patroli di sejumlah titik rawan dan berkoordinasi dengan tokoh masyarakat serta perangkat kelurahan agar dapat menekan angka kejadian perang sarung yang berujung pada tindak kekerasan.

Selain itu, pihak kepolisian juga mengimbau para remaja untuk mengisi waktu luang di bulan Ramadan dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti beribadah, mengikuti kegiatan keagamaan, atau terlibat dalam aktivitas sosial yang positif.

“Kami tidak melarang tradisi, tetapi kami mengajak masyarakat untuk tetap menjunjung tinggi keselamatan dan ketertiban. Jangan sampai kegiatan yang seharusnya menjadi hiburan justru menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan sekitar,” ujar salah satu perwakilan kepolisian.

Diharapkan, dengan adanya kesadaran dari berbagai pihak, fenomena perang sarung yang berpotensi membahayakan ini dapat dikendalikan, sehingga bulan Ramadan dapat dijalani dengan penuh ketenangan dan keberkahan.

Penulis: Ries

Editor: Alfa

554

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.