Ardiansyah Mengaku Kecewa Dengan Pelayanan RSPB
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Fasilitas kesehatan memang sangat diperlukan masyarakat, sehingga pelayanan kesehatan menjadi hal yang prioritas. Namun hal itu berbeda dari apa yang dialami warga RT 19 Kelurahan Margo Mulyo, Balikpapan Barat baru-baru ini (Sabtu (14/1)).
Pasalnya fasilitas kesehatan dengan menggunakan Badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) di Kota Balikpapan dinilai mengecewakan. Bahkan warga tersebut harus kehilangan orang yang di sayang karena lambatnya pelayanan yang diberikan Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB).
Mengetahui hal tersebut, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Balikpapan Ardiansyah mengaku kecewa dengan pelayanan di RSPB.
Melalui laporan RT 19, pada Sabtu (14/1) pukul 10.00 Wita pasien tersebut dibawa ke ICU RS Pertamina dengan menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS), tetapi pihak rumah sakit mewajibkan keluarga pasien membayar administrasi sebesar Rp 10 juta.
“Pihak rumah sakit katakan kartu tidak berlaku, jadi keluarga pasien diwajibkan membayar baru bisa dilayani. Ini keluarga tidak mampu, mereka meminta keringanan hingga Rp 2 juta tetapi tetap tidak dilayani,” ucapnya kepada awak media diruang komisi IV DPRD, Senin (16/1/2023).
Selanjutnya, pihaknya mencoba koordinasi dan merekomendasikan untuk menelpon pihak Dinas Kesehatan kota Balikpapan agar dirujuk ke RSUD Gunung Malang. Karena info pihak rumah sakit Pertamina alatnya kurang lengkap.
Sehingga pihaknya berkomunikasi dengan Rumah Sakit Karnudjoso (RSKD) namun responnya kurang positif, karena terlalu banyak prosedur.
“Banyak prosedurnya, harus menelpon pihak rumah sakit, apakah ketersediaan kamar, sedangkan pasien ini dalam keadaan darurat,” terangnya.
Dirinya pun sudah berupaya agar pasien tersebut secepatnya bisa ditangani, tetapi beberapa menit kemudian ia mendapat kabar bahwa pasien yang bersangkutan sudah meninggal dunia.
Ia pun menilai kejadian ini sangat miris sekali. Dalam kode etik kedokteran itu mementingkan pertolongan nyawa pasien bukan uang, namun nyatanya nilai uang lebih di prioritaskan bukan pada penanganan pasien.
“Kami sebagai anggota DPRD Balikpapan sangat terpukul dengan keadaan seperti ini, seolah – olah yang boleh sehat hanya orang yang memiliki uang. Apapun alasannya setiap orang harus ditolong karena ini menyangkut kemanusiaan dan jangan sampai rumah sakit itu hanya berpikir soal profitnya saja, tidak ada unsur kemanusiaannya,” mengakui kekecewaanya.
Bahkan sebelumnya ia sempat menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan untuk meminta solusi untuk menangani permasalahan ini, tetapi tidak mendapat jawaban.
“Ini sangat saya sesalkan, Dinkes Balikpapan respon sangat lambat untuk berikan solusi. Sudah meninggal baru diinfo dan dijawab,” keselnya.
Ditambah lagi, untuk mengeluarkan pasien yang sudah meninggal, pihaknya diminta untuk membayar Rp 2 juta.
Dia berharap semua stekholder dan pemerintahan dapat mengevaluasi kembali keberadaan rumah sakit swasta maupun negeri di Balikpapan, khususnya rumah sakit Kanudjoso dan Rumah Sakit Pertamina.
“Mohon bisa bantu lah warga Kaltim ini , saya tau kok berapa besaran APBD Kaltim, masa menolong satu nyawa aja gak bisa. Jangan hanya berpikir unsur profitnya saja tetapi unsur kemanusiannya juga harus ada,” ungkapnya. (mys/ries)
350
