Ketua DPRD Balikpapan Dialog Langsung Dengan Warga Karang Jati
BALIKPAPAN, Metrokaltim.com – Untuk dapat bersosialisasi dengan masyarakat, Ketua DPRD Kota Balikpapan Abdulloh menggelar dialog warga dengan tema pengembangan infrastruktur dan ekonomi.
Kegiatan dialog kali ini, pihaknya mengundang perwakilan dari ketua RT dan warga Kelurahan Karang Jati, Balikpapan Tengah. Acara berlangsung di aula rumah jabatannya, Minggu (5/2/2023) malam.
Dalam dialog, Ketua RT 24 Karang Jati Dedi mengusulkan agar ketua DPRD bisa melakukan diskusi dengan pihak Pertamina terkait dengan lahan kosong di lingkungan RT 24, mengingat lokasi tersebut cukup luas dan hanya dihuni binatang-binatang liar dan ilalang.
“Kami usulkan mungkin lokasi itu bisa dijadikan sebagai tempat Ruang Terbuka Hijau (RTH), maupun kantor terpadu seperti sektor, koramil, atau pemadam serta hal yang bermanfaat untuk masyarakat,” tambahnya.
Abdulloh menanggapi, untuk pemberlakuannya karena Pertamina berdomisili di kota Balikpapan, minimal Pertamina menyiapkan fasos fasum untuk kepentingan masyarakat sekitar.
“Tentu kami akan undang pihak Pertamina untuk berdiskusi, kalau hanya sebatas Posyandu kan enggak dimiliki juga, hanya pinjam pakai saja. Saya kira Pertamina tidak keberatan,” tanggapannya.
Dan untuk keluhan yang disampaikan warga pun masih sebatas permasalahan lingkungan, seperti listrik, drainase dan jalan yang harus dipenuhi, karena kewajiban pemerintah kota untuk kesejahteraan masyarakat.
“Karena APBD Perubahan di bulan Agustus, maka usulan akan kami tampung sekarang dan akan dibahas pada APBD Perubahan 2023,” jelasnya.
Dalam sambutannya, terkait dengan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) di Balikpapan. DPRD Balikpapan membuka kelas jauh yang artinya pelaksaannya bisa dilakukan di Balikpapan secara online maupun offline. Itulah kemudahan yang diberikan oleh UN Malang.
“DPRD sudah bekerjasama dengan Universitas Negeri (UN) Malang untuk S1, S2, S3 sampai profesor,” akunya.
Hal ini dipersiapkan untuk menyambut Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan. Karena jangan sampai saat recruitment pekerja, di Balikpapan belum siap karena belum memiliki keahlian.
Seiring dengan Balikpapan sebagai penyangga IKN. Boleh IKN dibangun di Sepaku, tetapi semua kegiatan pasti melalui Balikpapan.
Melihat potensi itu, ia berharap warga Balikpapan tidak seperti warga DKI (Betawi, red). Yang pada saat proses pembangunan DKI, warga asli Betawi justru menjual semua kepada pendatang, sampai akhirnya setelah DKI menjadi IKN yang menguasai malah warga pendatang.
“Warga Betawinya nyaris tidak keliatan dan terdengar, karena mereka lari ke daerah pinggiran yang jauh dari kota,” harapanya.
Balikpapan memang saat ini belum terasa karena masih tahap pembangunan. Jika sesuai target 2024 IKN resmi pindah di Kaltim. (mys/ries)
414
